Tolak Penutupan Dolly Dan Golput

Tolak Penutupan Dolly

Tolak Penutupan Dolly

Surabaya – Reaksi penolakan pada penutupan lokalisasi Dolly maupun Jarak semakin menunjukkan adanya peningkatan secara gencar. Selain mengadakan perlawan dengan aksi massa, protes terhadap kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang akan direalisasian pada tanggal 18/06/2014 maju sehari dari ketentuan semula yaitu tanggal 19/06/2014.

Warga Putat Jaya terutama yang terdampak penutupan ramai-ramai menolak Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 09/07/2014 2014 mendatang.

Penolakan TPS ini akan dilakukan bilamana Pemkot Surabaya tetap masih bersikukuh pada pendiriannya yaitu menutup lokalisasi peninggalan noni Belanda Dolly Van Der Mart.

“Jika tetap ditutup, warga melawan. Kami siap menolak pendirian TPS untuk Pilpres 2014, jika lokalisasi itu benar-benar ditutup. ini sudah harga mati,” kata Suroso anggota Front Pekerja Lokalisasi.

Masih kata Suroso, akan segera merapatkan barisan untuk menolak TPS Pilpres 2014 atas penutupan Dolly. Tentu saja, itu ancaman serius terhadap penyelenggera Pemilihan Umum (Pemilu).

Dapat dipastikan hal tersebut akan menambah angka Golongan Putih (Golput) yang sudah tidak tertarik lagi terhadap percaturan Bangsa ini. Bagi mereka, untuk apa memilih kalau pemimpin yang terpilih tidak bisa melindungi nasib mereka.

“Penutupan itu tidak melihat dampak terbesarnya, banyak warga yang sangat bergantung dengan keberadaan lokalisasi itu, apalagi janji untuk mensejahterakan warga terdampak hanya isapan jempol semata,” ungkap Suroso.

Disisi lain, warga beserta para Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari berencana mengajukan gugatan class action jika penutupan terhadap lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu benar-benar dilakukan Pemkot Surabaya.

Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu (GRB), salah satu elemen yang menolak penutupan Dolly, Saputro mengatakan, baik PSK, warga maupun mucikari di Dolly tetap satu suara, menolak penutupan.

Saputro Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu menyampaikan, warga sudah tidak percaya dengan janji-janji Pemkot yang akan memberi kompensasi jika warga sepakat dengan penutupan.

Masih banyaknya PSK di Sememi dan lokalisasi lain yang oleh pemkot sudah ditutup, menjadi bukti bahwa, penutupan telah gagal.

Saat ini warga setempat sudah mulai melakukan perlawanan atas tindakan-tindakan meresahkan yang dilakukan sejumlah petugas keamanan. Baik itu Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya maupun Kepolisian. Dalam beberapa hari terakhir ini, aparat sering melakukan razia di Jalan Girilaya, pintu masuk lokalisasi Dolly.

“Kami akan terus melakukan perlawanan, dan kami juga akan menggelar aksi lagi, tapi masih belum kami sampaikan sekarang,” pungkasnya.