Terkait Pemalsuan Surat, Polrestabes Surabaya Diminta Profesional

polrestabes surabayaSurabaya – laporan dugaan pemalsuan surat dan pengaduan palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal 317 dan 263 Kitap Undang-Udang Hukum Pidana (KUHP) yang dilaporkan Mochammad Ali dengan si terlapor Wawan Pristiwanto di Kepolisian Resor kota Besar (Polrestabes) surabaya hendaknya penyidikan perkara ini benar-benar profesional dan proporsional sebab masalah yang diadukan tersebut merupakan delik aduan yang diduga dilakukan orang yang satu perusahaan dengan si pelapor.

Sebelum M Ali melaporkan masalah ini ke Polrestabes Surabaya. Wawan Pristiwanto juga telah melaporkan Moch Ali di Polda Jawa timur dengan Laporan Polisi: LPB133/II/2013 tertanggal 8 Februari 2013 tentang tindak Pidana Penggelapan dan atau Penggelapan dalam Jabatan sebagai mana dimaksud dalam pasal 372 dan atau 374 KUHP setelah dilakukan penyidikan oleh  Subdit TP Kamneg pada tanggal 16 Juli 2014 telah dikeluarkan  Surat Perintah Penghentian Penyidikan nomor : SPPP/238. A/VII/2014 dan surat Ketetapan Nomor : S.TAP/127/VII/2014/Ditreskrimum tentang penghentian penyidikan perkara atas nama terlapor Mohchammad Ali.

Budi Rahayu mengaku memiliki saham PT Nerita yang sudah dijualkan kepada Ali dan Taufik Flora, dirinya mengatakan PT nerita sebenarnya adalah milik Wawan Pristiwanto dia hanya selaku karyawan di PT Karya Anugrah Mandiri dan merupakan satu grup dengan PT Nerita sementara dianya keluar dari PT ini baru M Ali Masuk sebagai penggantinya dia tidak mengetahui banyak tentang masalah Ali dan wawan, sepengetahuannya Ali telah dilaporkan wawan Ke Polda Jatim, Jelasnya.

Selama kurang lebih satu tahun Ali menjalankan PT Nerita selaku Direktur Wawan menduga Ali telah menyalah gunakan kewenangannya untuk kepentingan dirinya sendiri dan hal tersebut dilaporkan Ke Polda Jatim dan saat ini telah dihentikan penyidikannya sebab tidak terdapat cukup bukti.