Tak Gubris Penolakan, Perkim CKTR Tetap Lanjutkan Pembangunan

muiSurabaya – Permasalahan pembongkaran masjid Assyakinah yang ada di sekitar gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya berbuntut panjang.

Sebelumnya Gerakan Pemuda (GP) Ansor Surabaya mendatangi masjid yang dibongkar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Kali ini giliran Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur (MUI Jatim) datang dan menyuarakan pembongkaran masjid Assyakinah.

Tri Rismaharini (Risma) Wali Kota Surabaya diminta MUI Jatim untuk mempertimbangkan lagi perobohan Masjid Assyakinah yang akan diganti dengan masjid di dalam gedung baru.

Pernyataan MUI Jatim tertuang dalam surat MUI Jatim tanggal 16/11/2017 ke Wali Kota Surabaya yang ditanda tangani KH Abdus Somad sebagai Ketua Umum MUI Jatim dan Ainul Yaqin Sekretaris Umum MUI Jatim.

MUI Jatim menyatakan sikap, dengan pindahnya masjid di dalam gedung perkantoran akan menghilangkan akses publik.

Yang nantinya akan menggunakan fasilitas masjid sebagai tempat Shalat bahkan menghilangkan Syiar Islam.

Tidak hanya itu, keberadaan masjid Assyakinah sangat dibutuhkan oleh para pekerja kantoran.

Sebab lokasinya sangat strategis dan berada di tengah kompleks perkantoran.

MUI Jatim menegaskan Pemkot Surabaya untuk segera membangun kembali dengan kondisi yang lebih baik.

Sementara itu puluhan masyarakat dari Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) melakukan aksi di dalam Gedung DPRD Kota Surabaya.

Aksi KBRS menuntut pembangunan masjid lagi namun tidak satupun kalangan legislatif menemui mereka.

Parahnya lagi, walau adanya gelombang penolakan perobohan masjid Assyakinah.

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya Tata Ruang (Perkim CKTR) Surabaya sama sekali tidak memperdulikan arus gelombang penolakan masjid.

Bahkan Perkim CKTR akan kukuh melakukan perobohan dan pembangunan gedung baru.

Eric Tjahyadi Kepala Dinas Perkim CKTR menyampaikan, masjid tersebut akan menempati seluruh lantai 1 gedung baru yang berlantai 8.