Surat Prabowo Untuk Guru, Menuju Ke Sistim Orde Baru

surat prabowoJakarta – Walau surat pribadi yang ditulis capres Prabowo Subianto kepada para guru di seluruh Indonesia tidak melanggar peraturan kampanye, tapi muncul masalah baru di kalangan para guru. Surat itu dinilai akan mengganggu kebebasan para guru dalam menentukan pilihan.

Kepala Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya, Dr Mikhael Dua mengatakan hal itu kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/6/2014), menanggapi adanya surat pribadi Prabowo Subianto yang dikirimkan secara masif (karena sudah di fotocopy) kepada para guru di seluruh Indonesia.

Mikhael mengatakan, tentu banyak guru yang terkejut setelah menerima surat tersebut, sebab para guru tidak terbiasa dengan kultur seperti itu.

Mikhael memaklumi jika setelah menerima surat Prabowo yang dikirim melalui sekolah itu, banyak guru yang resah dan mengadu ke pihak-pihak terkait, sebab dikhawatirkan jika capres tersebut memenangi pilpres 9 Juli besok, mereka punya kewajiban untuk menjadi anggota partai tempat di mana sang capres bernaung.

Dalam surat selembar itu, Prabowo minta dukungan kepada para guru agar memilihnya menjadi presiden pada 9 Juli nanti. ‚ÄúDari hati saya yang terdalam, saya mohon doa dan restu Anda. Insya Allah, apabila saya terpilih nanti, saya akan berusaha sekuat tenaga memimpin Indonesia menjadi sebuah negeri yang lebih maju lagi, lebih sejahtera, serta lebih bermartabat di mata dunia,‚ÄĚ tulisnya.

Para guru, menurut Mikhael, tentu tidak ingin cara-cara Orde Baru dipakai dalam upaya mencari kemenangan dan pengaruh.

Saat Orba di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto berkuasa, para guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) wajib hukumnya untuk memilih Golkar.

‚ÄúCara-cara seperti ini tentu tidak cocok lagi digunakan di era reformasi di mana setiap guru punya kebebasan untuk memilih partai atau capres. Meskipun tidak melanggar aturan kampanye, cara yang digunakan capres nomor urut 1 tetap tidak etis dipakai,‚ÄĚ kata Mikhael Dua.