Komisi D Menyampaikan Surabaya Tetap Akan Mengalokasikan Dana Untuk Pendidikan Gratis

Agustin Poliana

Agustin Poliana

Surabaya – Perhatian legislatif Surabaya pada sektor pendidikanrupanya mendapat perhatian secara khusus. Semua itu untuk menunjukan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda di Surabaya berkualitas serta mampu bersaing dalam segala hal.

Perhatian itu dibuktikan oleh Komisi D membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Surabaya dengan adanya alokasi dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga tercipta pendidikan gratis di Surabaya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap akan mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan program pendidikan gratis bagi siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/K), kendati pada tahun 2017 nanti pengelolaannya akan beralih ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim).

Agustin Poliana Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya menyampaikan, pengaalokasian anggaran tersebut sebagai wujud tanggung jawab Pemkot Surabaya terhadap warganya.
“Terutama terhadap anak-anak yang membutuhkan biaya sekolah,” tambahnya.

Masih kata Agustin, kecil kemungkinan Pemprov Jatim bisa menerapkan pendidikan gratis untuk tingkat SMA/K seperti saat dikelola Pemkot Surabaya. Pasalnya, anggaran pendidikan di Pemprov Jatim hanya Rp (rupiah) 400 hingga Rp 500 Miliar. Anggaran tersebut harus dialokasikan untuk biaya pendidikan di 38 Kabupaten dan Kota seluruh Jatim.

Sementara, di Surabaya dalam menerapkan pendidikan gratis tingkat SMA/SMK, dana yang dianggarkan mencapai Rp 205 Miliar pertahun.

“Jumlah tersebut tidak termasuk belanja lainnya, seperti pengadaan perangkat komputer, buku dan lainnya,” tambahnya.

Agustin mengharapkan, pengambilalihan pengelolaan pendidikan menengah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah kota (Pemkot) ke Pemprov Jatim tidak sepotong-sepotong.

Pasalnya, berdasarkan Udang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pemerintah wajib mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar 20 persen.