Sudah Monopoli, Juga Buta Dan Tuli

Hariani, korban BUMD Milik Pemkot Surabaya

Hariani, korban BUMD Milik Pemkot Surabaya

Surabaya – Tidak habis berbuat ulah, itulah yang tepat dikatakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Surabaya. Sudah memonopoli air bersih, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya, kembali menekan pelanggan air bersih dengan menaikan tagihan yang tidak wajar.

Hariani merupakan pensiunan dari seorang pegawai di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya tinggal di jalan Gayungan PTT nomor 51 Surabaya, mengadu Komis B bidang Perekonomian (Eko) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya terkait pembayaran rekening air dirumahnya mengalami kenaikan secara drastis.

Hariani menyampaikan, pada bulan 09/2013 tagihan rekening airnya hanya Rp (rupiah) 41 ribu. Namun menginjak bulan 10/2013 menjadi Rp 647.100. Kenaikan ini terus naik, sampai total tagihan bulan 04/2014 mencapai Rp 3.935.140. Pada bulan 12/2014 menjadi Rp 6.432.840.

“Padahal di rumah hanya ditempati 3 orang saja dan jarang dipakai karena saya sedang menjalani pengobatan di Rumas Sakit (RS), tapi setelah saya pulang tahu-tahu pembayaran rekening air saya melonjak sampai tinggi,” ungkapnya.

“Saya sudah menyampaikan hal ini pada pihak PDAM tapi tidak ada jawaban apapun, saya ingin tahu kenapa tagihan pembayaran rekening air dirumah saya naik sampai segini banyaknya, makanya, saya langsung melaporkan hal ini kepada anggota dewan,” terangnya.

Khusnul Khotimah anggota komisi B mengatakan, pemasalahan seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun, nyatanya walaupun mendapat laporan dan kritikan dari masyarakat, pihak PDAM tidak segera menyelesaikan dan terkesan malah membiarkan permasalahan berkembang. “Padahal, hal seperti ini harus segera diselesaikan,” pungkasnya.