Suara Putih Dipastikan Meningkat Tajam

 Denpasar – Korupsi berjamaah yang dilakukan oleh kalangan legislatif, membuat kalangan masyarakat semakin heran.

Sebelumnya pada tahun 2012 lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat sebanyak 15 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau dalam kasus korupsi Pekan Olahraga Nasional (PON).

Kemudian tahun 2018, sebanyak 18 anggota DPRD Kota Malang ditetapkan tersangka untuk kasus suap pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP).

Terbaru, kembali KPK menjerat sebanyak 38 anggota DPRD Sumatera Utara (Semut) dalam kasus suap pengesahan APBD.

“Begitu banyak anggota legislatif yang terjerat kasus korupsi, ada apa sebenarnya pada mereka,” kata Ketut.

“Masak mereka kekurangan uang, apa kurang gaji mereka itu, ditambah dengan tunjangan dan lainnya,” tambahnya.

“Dengan kejadian seperti itu, bahkan menghabiskan uang rakyat, layaklah mereka dipilih kembali,” kata Made.

“Jangan salahkan bila masyarakat sudah tidak tertarik pada pemilihan legislatif (pileg) tahun mendatang,” tuturnya.

“Kepercayaan masyarakat terhadap mereka sudah dipastikan luntur, seiring dengan fakta di depan mata, akibat perilaku buruk para legislator itu,” kata Niken.

Dengan kejadian beberapa akhir ini dalam pemberantasan korupsi. Dapat dipastikan suara putih akan lebih meningkat.

Dimana masyarakat semakin tidak percaya pada kalangan legislator. Setelah melihat perilaku maupun kerakusan mereka dalam menguras uang rakyat.