SMK Mini Dibentuk Untuk Ciptakan Tenaga Kerja Terampil Dan Lapangan Kerja

soekarwo dan saifullah yusuf saat berkunjung di pondok pesantren

soekarwo dan saifullah yusuf saat berkunjung di pondok pesantren

Jawa Timur – Kebijakan Soekarwo, Gubernur Jawa Timur, untuk mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mini melalui bidang Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) dan Perguruan Tinggi (Perti) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, harus dicermati sungguh-sungguh, meski Soekarwo, pernah mengatakan bahwa dengan didirikan SMK Mini, mampu menciptakan tenaga kerja yang siap untuk bertarung dalam AEC (Asean Economic Community) 2015 mendatang.

Kendati berlabel SMK, sekolah ini memberi program pelatihan singkat (6 bulan) bagi peserta didiknya.

Hudiono, Kepala Bidang Dikmenjur dan Perti Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, saat ditemui portal nasional di ruang kerjanya mengatakan, pelaksanaan SMK Mini sesuai dengan kurikulum adaptif dimana kurikulum ini sesuai dengan tahapan pelatihan.

Tahun ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menargetkan pendirian 70 SMK Mini di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur yang memiliki SMK pada umumnya. Sebagai rintisan, telah berdiri 40 SMK Mini di Kabupaten Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, Pamekasan, Sampang, Sumenep, Bangkalan, Jombang, Banyuwangi, Madiun, Nganjuk, Ponorogo, Blitar, dan Kota-kabupaten Pasuruan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan dana pendamping 250 juta rupiah sebagai dana hibah untuk satu SMK Mini dimana dana tersebut merupakan dana APBD dan satu SMK Mini melatih 200 peserta didik.

SMK Mini sendiri bertujuan untuk peningkatan Sumber Daya Manusia peserta didik yang ada di dalam pondok pesantren. Total anggaran sekitar 17,5 milyar rupiah yang disiapkan pemerintah provinsi Jawa Timur ditujukan : 1. 70% untuk pelatihan, produk, pembelian alat penunjang. 2. 15% untuk pengembangan. 3. 10% untuk manajemen./*