Sisi Gelap Dunia Pendidikan

sekolahSurabaya – Seperti bara dalam sekam, permasalahan pendidikan sampai kapanpun tidak akan terselesaikan dengan baik apabila tidak ada pemahaman dari pemegang kebijakan.

Dunia pendidikan yang ada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pendidikan yang berada dibawah Kementerian Penddikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Semua itu terungkap dalam dengar pendapat di Komisi D bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

Ibnu Shobir anggota Komisi D DPRD Surabaya mengatakan, pada prinsipnya di Surabaya bisa sama-sama memberikan pelayanan yang berkualitas di sekolah.

Masih kata Shobir, baik yang ada di jalur Kemenag maupun di jalur Kemendikbud. Bahwa ternyata ada sekitar 50 ribu siswa merupakan warga Surabaya berhak mendapatkan pelayanan yang baik.

Namun yang menjadi ganjalan adalah pendidik yang bertugas di Madrasah Ibtidaiyah maupun Madrasah Tsanawiyah pendapatannya sangat rendah tepatnya Rp (rupiah) 300 ribu setiap bulannya.
Moh Bakri Kepala Kantor Kemenag Surabaya menyampaikan,
kalau disisi kualitas pendidikan, sekolah-sekolah dibawah naungan Kemenag sudah memberikan kontribusi yang maksimal.

Bahkan Bakri membenarkan gaji pendidik tersebut. “Bahkan tanpa ada tambahan apapun,” ungkapnya. “Dari sisi sarana prasarana sekolah yang ada di bawah naungan Kemenag Surabaya jauh tertinggal bila dibandingkan dengan sekolah umum,” ungkapnya.

Sutadi anggota Komisi D DPRD Surabaya mengungkapkan, semua sekiolah, terlebih sekolah madrasah yang ada di kota Surabaya ini dapat menyampaikan secara jujur apa kebutuhan yang belum terpenuhi selama ini.

“Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya seharusnya juga menaruh perhatian yang sama antara sekolah di Kemendiknas maupun sekolah di Kemenag,” jelas Sutadi.