SIB Ditinggal Pedagang, Anggota Komisi B Berang

pkl bulakSurabaya – Keberadaan Sentra Ikan Bulak (SIB) kembali disorot anggota dewan. Meski alokasi pembangunan SIB telah menghabiskan anggaran Rp 20.960.320.666, faktanya bangunan berlantai dua itu malah mangkrak.

Eddy Rusianto anggota Komisi B bidang Perekonomian (Eko) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya menuturkan, sebenarnya Komisi B telah berulang kali memeberi saran bagi Dinas Pertanian (Distan) Surabaya dalam upaya meramaikan sentra ikan bulak. Dengan Salah satunya dengan memberikan batas waktu bagi pedagang yang masih nekat berjualan di luar SIB.

“Pedagang yang masih berjualan di sekitar batu-batu harus ditertibkan,” saran Eddy. “Kesan masyarakat ketika ke SIB, paling hanya melihat sebagai tempat pengasapan ikan saja, nah pandangan semacam itu harus dirubah, dan itu menjadi rugas dari Pemerintah Kota (Pemkot) bersama dinas terkait,” tandasnya.

Selama ini pedagang di SIB tak terlalu beruntung. Sejak diresmikan akhir tahun 2012, pendapatan pedagang tidak bisa berjalan normal. Bahkan, sebagian besar pedagang memilih untuk angkat kaki dari SIB karena sepi pengunjung dan kembali ke lapak di daerah bebatuan arah Kenjeran.

Motifasi pedagang berjulan di SIB sebenernya sempat kembali muncul ketika Pemkot Surabaya mewacanakan bakal membangun water front city (pengembangunan lalu lintas air perkotaan) berupa kereta gantung. Hingga sampai saat ini tidak terealisasi.

Sigit Sugiharsono Kepala Dinas Pertanian Kota (Kadis Pertan) Surabaya, mengaku telah membuat beberapa terobosan untuk meramaikan sentra ikan bulak. Salah satunya dengan menjalin kerjasama dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

“Lewat kerjasama ini, saya berharap setiap kegiatan di SKPD yang mampu manarik masyarakat dapat diselenggarakan di SIB,” terangnya.