Risma Marah, Baktiono Sebut Alihkan Isu

Taman Kota Dirusak

Taman Kota Dirusak

Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sepertinya akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, untuk memperbaiki tanaman yang rusak akibat di injak-injak ratusan pengunjung guna mendapatkan es krim gratis.

Pasalnya, tanaman hijau yang sudah dirawat tahunan itu rusak sepanjang 1 kilometer. Tri Rismaharini (Risma) Walikota Surabaya langsung turun memperbaiki tanaman di sepanjang Jalan Raya Darmo tepatnya depan Taman Bungkul.

Untuk perbaikan tersebut Risma mengerahkan lebih dari 100 personil dibantu alat berat dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya.

Risma memprediksikan perbaikan tanaman tersebut menelan anggaran sebesar Rp (rupiah) 1 miliar. Sebab dalam perawatan tanaman beberapa puluh meter saja, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 200 juta.

Masih kata Risma, saat ini DKP sedang mengolah tanah sebelum ditanami lagi. Memasuki musim kemarau, perlu persiapan dulu. Sebab, kondisi tanah masih panas tidak bisa ditanami langsung.

“Sebetulnya kalau dikoodrinasikan dengan baik tidak ada apa-apa, untung bukan di Taman Bungkul, kalau di sana mungkin sudah ada korban, tapi saya bersyukur tidak ada korban anak,” katanya. Risma memperkirakan membutuhkan waktu 1 bulan.

“Jadi begini, Surabaya itu tidak punya apa-apa, kalau daerah lain punya tambang emas, batubara dan pemandangan cantik, makanya, kami ingin menarik pengunjung dengan membangun dan merawat taman-taman,” paparnya.

Terpisah, Baktiono Ketua Komisi D bidang kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya mengecam aksi marah-marah yang dilakukan Risma saat mendatangi acara.

“Tindakan itu berlebihan, tidak perlulah seperti itu,” tambahnya. “Itu katanya sudah ada izin keramaian dari kepolisian, tempatnya di jalan, bukan di Taman Bungkulnya,” jelasnya.

Baktiono mensinyalir arogansi Risma itu tidak lebih dari upaya pengalihan isu. Saat ini Risma sedang dikecam publik lantaran penghargaan yang diterima dari EBA. Penghargaan itu kategori united europa award (UEA), tapi ternyata diklaim sebagai piala kategori socrates award dengan nominasi kota masa depan.

Terlepas dari semua tudingan itu, Baktiono menyarankan agar berfikir ulang memperkarakan PT Uniliver. Sebelum menuntut, Pemkot harus mengumpulkan data yang akurat supaya tidak semakin ramai. Apalagi PT Uniliver termasuk salah satu Corporate Social Responsibilty (CSR) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

“Beberapa hari selesai, yang rusak cuma seperti alang-alang dan rerumputan,” tandasnya.