Refleksi Hari Guru, Dewan Minta Eksekutif Tuntaskan Tiga Agenda Perbaikan Nasib Guru

dari kiri, Ikhsan (Kepala Dinas Pendidikan Surabaya), Sekda Kota Surabaya Hendro Gunawan, Wall Kota Surabaya Tn Rismaharini, Ketua DPRD Surabaya Armuji saat menghadlri Peringatan Han Guru di Gelora 10 Nopember, Minggu 23 Nop 2014

dari kiri, Ikhsan (Kepala Dinas Pendidikan Surabaya), Sekda Kota Surabaya Hendro Gunawan, Wall Kota Surabaya Tn Rismaharini, Ketua DPRD Surabaya Armuji saat menghadlri Peringatan Han Guru di Gelora 10 Nopember, Minggu 23 Nop 2014

Surabaya – TUNTUTAN dan tantangan dunia pendidikan di Surabaya cukup berat. Karena itu, perlu serangkaian pembenahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pahiawan. Hal itu ditegaskan Ketua DPRD Kota Surabaya Ir. Armuji SH. MH disela acara Peringatan Han Guru yang diselenggarakan di Gelora 10 Nopember Tamb aksari, Surabaya, Minggu (23/11/2014).

Menurut Armuji, ada beberapa pembenahan yang mendesak dilakukan. Pertama, terkait kiprah guru. Saat ini masih banyak guru belum bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan informasi. Sementara, siswa siswinya memiliki penguasaan iptek yang jauh lebih maju ketimbang gurunya. ‚ÄúIni sangat ironis. Bagaimana percepatan teknologi Sekolah belum bisa diikuti guru-guru kita,‚ÄĚ ujar Armuji.

Selain itu, sambung Armuji, guru-guru meng-up gradedini dalam peningkatan kualitas bahasa asing. Apalagi pada 2015 mendatang, diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kedua, terkait pemenuhan anggaran pendidikan. DPRD Kota Surabaya telah menyetujui pengalokasian anggaran untuk peningkatan kualitas pendidikan dan guru sebesar Rp 1,73 triliun atau setara 24 persen dan total APBD Surabaya.

Alokasi anggaran ini belum termasuk dukungan APBN. Sehingga, kalau ditotal menjadi 30 persen. ‚ÄúAlokasi ini sudah jauh di atas ketentuan yang disyaratkan UUD‚Äô45 pasal 31 ayat 4, yaitu minimum 20 persen dan total APBD. Alokasi dana tersebut tidak hanya untuk alokasi di sekolah negeri saja, tetapi juga untuk sekolah swasta,‚ÄĚ papar Armuji.

Dengan alokasi tersebut, seharusnya Dinas Pendidikan Surabaya sudah bisa memetakan sejauh mana hasil yang telah dicapai. Bukan hanya terkait peran guru, tapi juga sekolah dan siswanya.

‚ÄúKita mengalokasikan anggaran pendidikan untuk peningkatan kualitas guru sekitar Rp 11 miliar. Dengan dana itu, berapa banyak guru di Surabaya yang sekolah S2, misalnya, sampai sekarang kita belum mendapat laporan dinas pendidikan,‚ÄĚ tandas Armuji. Ketiga, terkait kesejahteraan guru.

Hasil temuan di lapangan, banyak sekali guru tidak mengajar disatu tempat. ini karena mereka merasa penghasilannya kurang lantaran jam mengajarnya sedikit.

‚ÄúDengan mengajar dibanyak sekolah tentu sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dalam mengajar. ini harus dipikirkan Pemkot Surabaya,‚ÄĚ pungkas Armuji. (*)