Profesionalisme Polri Layak Dipertanyakan (Ada Temuan Dianggap Lemah)

Bareskrim PolriJakarta, portal nasional – Anton Charliyan, Kepala Divisi Humas Polri, mengatakan, penyidik baru melihat ada orang yang berpotensi sebagai tersangka pada kasus pengadaan mobile crane di PT Pelindo II.

Penyidik juga sudah memiliki alat bukti yang cukup untuk menunjukkan ada unsur tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang. Namun jika bukti sudah lengkap, tapi bila tidak ada kaitan satu sama lain akan tetap lemah. “Ya, tidak kuat juga kan. Saya minta maaf karena dulu dibilang ada tersangka. Yang benar belum ada tersangka,” jelas Anton.

Dengan pernyataan Anton Charliyan tersebut, sekaligus meralat informasi yang menyatakan bahwa penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan seorang tersangka dalam perkara korupsi pengadaan mobile crane di PT Pelindo II sebesar Rp 45 miliar lebih.

Pada tanggal 3 September 2015 lalu, Komjen Budi Waseso yang waktu itu menjabat Kepala Bareskrim Polri mengungkapkan bahwa pengadaan mobile crane di PT Pelindo II ada indikasi tindak pidana korupsi dan telah menetapkan satu orang tersangka.

Sebagai temuan dan bukti tindak pidana korupsi pengadaan 10 mobile crane, yakni dianggap ada unsur kesengajaan untuk dipaksakan dimana mobile crane yang dimaksud tidak dibutuhkan sehingga mangkrak. Dan fakta lain, penyidik menemukan adanya penggelembungan harga (mark up) dimana harga perkiraan sementara (HPS) tidak sesuai dengan spesifikasi barang pada tahun berjalan yakni 2013.

Atau mungkin unsur kesengajaan pengadaan barang yang tidak segera dibutuhkan dan adanya harga barang yang di mark up meski terkait dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang bisa menjalankannya hanya KPK dan bukan Polri./*