Predator Pendidikan Di Wilayah Risma

tut wuri handayani.Surabaya – Pendidik sekarang ini sudah tidak lagi mengedepankan empati sosial. Bergesernya sistem tersebut menyebabkan penerapan sistem empari sosial sengaja dihilangkan.

Tidak hanya itu, parahnya lagi pendidikan di Indonesia menggunakan siatem tidak punya uang jangan sekolah.

Seperti yang terjadi pada salah seorang siswa kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Karitas. Dikarenakan tidak dapat membayar uang bulanan sekolah, siswa tersebut dikeluarkan. Walau pihak orang tua berusaha membayar dengan melakukan pembayaran bertahap.

Hal tersebut membuat berbagai kalangan masyarakat Surabaya bertanya-tanya.

“Dimana anggaran bantuan untuk siswa kurang mampu, katanya sudah dianggarankan, kenapa bisa kasus ini terjadi,” kata Salma.

“Pihak sekolah seharusnya memikirkan dampak sikologi anak, bila dikeluarkan hanya karena menunggak pembayaran,” tambahnya.

“Sedangkan pihak orang tua ada niatan baik, akan mengangsur pembayaran itu,” ungkapnya.

“Ada apa dengan pendidikan di Indonesia ini, sepertinya program pemerintah Joko Widodo (Jokowi) menjadi sia-sia,” kata Sigit.

“Dimana anak produktif terus melanjutkan sekolah, yang ini malah dikeluarkan, kasihan dia, belum lagi ada intervensi ataupun yang lainnya,” tambahnya.

Sementara masyarakat lainnya juga menanyakan program dari Tri Rismaharini (Risma) Wali Kota Surabaya tentang anggaran untuk pendidikan.

“Wali Kota harus mengetahui, apakah ini kasus baru terjadi atau berulang terjadi tentunya pada sekolah berbeda,” kata Lely.

“Siswa kurang mampu janganlah diperlakukan seperti itu, dan jangan pula dijadikan sebagai sesuatu yang tidak baik serta mengganggu kebijakan sekolah,” tambahnya.

Masyarakat meminta para pendidik jangan seperti predator. Siap menerkam bagi siswa kurang mampu dalam anggaran.