Polri Ternyata Masih Tidak Paham Akan UU Pers

Pedukung Prabowo Bentrok Dengan Aparat

Pedukung Prabowo Bentrok Dengan Aparat

Surabaya – Selesai dibanjiri massa pendukung pasangan Calon Presiden Prabowo-Hatta ternyata kantor Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur (KPU Jatim) belum benar-benar aman.

Namun, demo kali ini mengarah ke aparat kepolisian yang berjaga di KPU. Hal itu dipicu karena adanya kejadian dari aparat Kepolisian yang merebut paksa kamera dan menghapus file foto milik Iin merupakan fotografer dari Harian Bhirawa saat meliput aksi demo massa Prabowo-Hatta yang diamankan dan dipukuli polisi.

Pasca kejadian tersebut puluhan wartawan menuntut aparat kepolisian untuk meminta maaf dan mengusut tuntas oknum aparat yang merebut paksa kamera dan menghapus file foto milik seorang jurnalis.

“Ini sudah melanggar Undang-Undang Pers (UUP), kami meminta aparat meminta maaf dan mengusut tuntas pelaku penghapusan hasil karya kami,” ujar Sefita salah satu wartawan.

Puluhan awak media ini selain berorasi, juga melakukan aksi simbolis dengan meletakkan kamera dan ID Card mereka di jalan raya.

Menurut Iin, kejadian yang dialaminya. Bermula dari saat dirinya sedang memotret 3 orang pendemo yang tergabung dalam Elemen Rakyat Jawa Timur Menggugat.

Setelah memotret, Iin didatangi 3 orang yang diperkirakan polisi berpakaian preman dan salah satu diantaranya merampas, lalu menghapus gambar hasil jepretannya.

“Nggak bisa mbak, ini harus dihapus semua,” kata Iin menirukan oknum polisi tersebut.

Iin menambahkan bahwa ada sekitar 2+ gambar yang dihapus oleh oknum tersebut. Setelah dihapus gambarnya, Dia disuruh keluar dari belakang barikade kepolisian.

“Silahkan keluar mbak,” tutur Iin.

Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Setija Junianta Kepala Kepolisian Resor Kota Besar (Kapolrestabes) Surabaya yang memimpin pengamanan langsung menemui wartawan yang sedang melakukan aksinya.

“Menurut saya wajar rekan-rekan pers aksi protes, kami memakluminya, nanti kita akan cek identitasnya siapa yang melakukan itu,” kata Setija.

Bahkan Setija mengaku sudah mendapatkan foto oknum yang merampas kamera dan menghapus file gambar dari jurnalis foto tersebut.

“Kami akan mengecek lagi yang disangka petugas berpakaian preman,” imbuhnya.

“Namun demiakan apa pun juga, kapolrestabes minta maaf dan tidak ada unsur kesengajaan, nanti kita cek lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Setija menjelaskan bahwa nantinya ada sanksi dan kode etik bagi oknum yang melakukan pelanggaran.

“Kita akan lihat sejauh mana motivasinya seperti apa, sanksinya, pasti ada kode etik dan nanti saya update lagi,” pungkasnya.