Petani Desak Pemerintah Beri Rendemen 9%

petani tebu tuntut rendemen

petani tebu tuntut rendemen

Jawa Timur – Jelang musim giling pada Mei mendatang, para petani tebu di Jawa Timur kini mendesak pemerintah daerah dan industri gula untuk dapat memberikan jaminan rendemen tebu sebesar 9 persen. Tuntutan tersebut menyesuaikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 Tahun 2012 tentang Jaminan Rendemen Minimal dan Hablur Tebu.

¬†‚ÄúTahun 2015 ditargetkan sesuai Perda, maka rendemen bisa mencapai 10 persen. Untuk bisa mencapai itu, tahun ini rendemen harus sudah masuk di kisaran 9 persen,‚ÄĚ kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Jawa Timur, Arum Sabil, Jumat (28/3).

Menurut dia, dalam Perda dijelaskan jika salah satunya adalah target rendemen tebu akan ditingkatkan sebesar 1 persen setiap tahun. Artinya, jika tahun ini rendemen ditargetkan 9 persen, maka pada tahun 2015 rendemen tebu sudah mencapai angka minimal 10 persen.

‚ÄúKalau semua mengacu pada Perda, harusnya rendemen tebu yang dicapai tahun lalu minimal sebesar 8 persen. Namun faktanya justru turun menjadi rata-rata 7,2 persen, Kalau tahun ini harus 9 persen, mampu tidak pabrik gula mewujudkan itu semua,‚ÄĚ tegas Arum.

 Ia menegaskan, jika hingga batas waktu yang ditentukan dalam Perda Nomor 17/2012 yakni 2015 atau tahun depan rendemen minimal itu juga masih tetap belum bisa dipenuhi, Arum bilang, ada sanksi pidana bagi pemangku kepentingan, yakni pemerintah dan pengelola pabrik gula, dalam hal ini PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Kementerian BUMN.

‚ÄúKami menagih komitmen dalam Perda ini. Jangan sampai Perda ini hanya sebagai macan kertas yang tidak punya pengaruh apa-apa. Jangan sampai ini justru menimbulkan pelecehan terhadap Perda yang dibuat DPRD Jatim. Kalau aturan ini tak dijalankan, apa gunanya saat penyusunan dulu melibatkan para akademisi dan tenaga ahli apalagi menyerap dana yang tak sedikit,‚ÄĚ beber Arum.

Rendemen tebu, lanjut dia, sangat penting bagi petani, karena menjadi ukuran mereka untung atau rugi. Semakin tinggi rendemen didapat petani semakin rendah biaya produksi dan semakin tinggi keuntungan yang didapat. Begitu juga sebaliknya.

‚ÄúKami harap rendemen di atas 10% pada 2015 tidak sekadar di atas kertas. Karena ada reward dan punishment yang diatur dalam Perda, sehingga yang tidak mentaati akan kena sanksi,‚ÄĚ jelasnya.

Menurutnya, sejatinya tidak terlambat untuk bisa memenuhi kewajiban rendemen minimal dalam Perda tersebut. Kuncinya salah satunya adalah dengan melibatkan lembaga riset, seperti Dewan Gula Indonesia (DGI) untuk menciptakan benih unggul yang tahan terhadap anomali musim.¬†“Produk ini diharapkan bisa menghasilkan rendemen yang tinggi,” tukasnya.