Pertemuan Teknis Pengembangan Tanaman Kakao Dan Peningkatan Mutu Tembakau Jawa Timur 2014

samsul arifien pada Pertemuan Teknis Pengembangan Tanaman Kakao Dan Peningkatan Mutu Tembakau  Jawa Timur

samsul arifien pada Pertemuan Teknis Pengembangan Tanaman Kakao Dan Peningkatan Mutu Tembakau Jawa Timur

Jawa Timur – Dalam menyongsong pembangunan perkebunan tahun 2014 ini, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur bulan lalu menyelenggarakan pertemuan teknis pengembangan tanaman kakao rakyat dan peningkatan mutu melalui intensifikasi untuk tembakau Jawa. Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 24 ÔÇô 28 Maret 2014 bertempat di Hotel Utami, diikuti sekitar 550 petani kakao dan tembakau penerima kegiatan seluruh Jawa Timur beserta petugas kabupaten / kecamatan yang membidangi perkebunan selaku pendamping.

Dalam acara penutupan pertemuan teknis kakao sekaligus pembukaan pertemuan teknis tembakau tersebut, Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur,memberikan arahan seputar tanaman tembakau dan kakao. Samsul Arifien menyebutkan bahwa kedua komoditi tersebut merupakan komoditi penting dan strategis. Tembakau dan kakao telah ditanam terus menerus sejak nenek moyang kita. Para petani masih terus bersemangat menanam, dan inilah yang harus terus dipertahankan dengan menatap cerah ke depan.

Samsul Arifien memberi julukan tembakau sebagai fancy product, yaitu produk yang banyak liku-liku seninya. Di balik kenyataan bahwa memang tembakau dapat mengganggu kesehatan, terungkap perilaku merokok yang sepanjang sejarah tidak / belum pernah buram. Sehingga dalam menyemangati petani tembakau Samsul Arifien menyarankan agar petani tetap dalam suasana kondusif dan fokus dalam bertanam tembakau.

Di Indonesia bisnis rokok menjadi penting karena selain menguntungkan pabrik rokok, juga memberikan keuntungan besar bagi pemerintah dari cukai rokok yang didapatkan. Sebagai gambaran cukai rokok 10 tahun silam yang sebesar Rp. 10 trilyun, sekarang telah mencapai angka Rp. 108 trilyun, jauh melebihi keuntungan perusahaan pemerintah (BUMN) yang hanya Rp. 35 trilyun.

Produksi tembakau Indonesia sekitar 200 ribu ton, masih kalah jauh dengan Amerika yang mencapai 500 ribu ton, apalagi dengan China yang mencapai 2,4 juta ton.

Dari produksi nasional tersebut, tembakau Jawa Timur menyumbang sebesar 120 ribu ton atau setara 60 %, sehingga ditekankan agar tembakau Jawa Timur jangan bergeser dan jangan sampai punah, mengingat banyak tembakau di luar Jatim yang hilang / punah seperti tembakau Deli (Sumatera), tembakau Voorstern landen (Klaten) dan menurunnya areal tembakau Palembang, Lampung, Sulawesi Selatan dsb.

Samsul Arifien mengingatkan akan pasar terbuka pada tahun 2015 nanti, di mana produk dari luar negeri akan masuk Indonesia tanpa beban pajak, sehingga efisiensi produk perkebunan terutama kakao harus ditingkatkan agar bisa berkompetisi antara lain melalui peningkatan produktivitas dan mutu produk. Namun pemerintah tak akan tinggal diam, akan selalu ada peran pemerintah untuk membantu melindungi produksi perkebunan rakyat.

Sebagai salah satu langkah strategis Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur dalam upaya untuk melindungi tembakau, maka pada tahun 2014 akan diusulkan kepada Kemenkumham RI untuk pemberian sertifikat perlindungan IG (Indikasi Geografis) terhadap tanaman tembakau yang spesifik pada suatu daerah.

Untuk tanaman kakao, produksi nasional Indonesia sebesar 720 ribu ton mencapai peringkat ke-3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi yang dicapai oleh Provinsi Jawa Timur adalah sebesar 35 ribu ton. Meskipun kontribusi terhadap produksi nasional belum begitu besar, namun hal ini merupakan kesuksesan tersendiri, mengingat sejarah kakao di Jawa Timur yang kelam pada saat pasca reformasi.

Sebelum reformasi, perkebunan kakao di Jawa Timur adalah milik perkebunan besar yang pada akhirnya produksi terus menurun hingga 50%, karena permasalahan sosial antara perkebunan besar dengan masyarakat sekitarnya. Banyak pohon kakao yang dilakukan konversi dengan tanaman semusim oleh masyarakat, dan bahkan kita kehilangan plasma nutfah kakao edel (mulia).

Pada kepemimpinan Samsul Arifien, pencanangan program kakao belt oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, di sepanjang pantai selatan dari Banyuwangi sampai Pacitan dalam kurun lima tahun terakhir bisa dikatakan berhasil karena produksi kakao rakyat Jawa Timur mencapai 35 ribu ton, seperti capaian perkebunan besar dahulu. Dari produksi kakao tersebut hampir semua diekspor, karena konsumsi rakyat Indonesia teramat rendah, yaitu hanya 0,3 kg / kapita / tahun, sangat jauh dibandingkan Finlandia yang mencapai 10 kg / kapita / tahun, padahal kakao sangat baik untuk kesehatan./*