Pertanyakan Dukungan Salah Satu Cagub

Abdul Hamid

Abdul Hamid

Surabaya – Jaringan Santri Nahdlatul Ulama Jawa Timur (NU Jatim) mempertanyakan seruan wajib bagi Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk mendukung salah satu pasangan calon (paslon) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim.

Abdul Hamid Ketua Jaringan Santri NU Jatim menyatakan, sebelumnya beredar kabar ada seruan wajib dari Kiai Darwies Maszar yang mewajibkan alumni PMII di Jatim untuk memberi dukungan kepada pasangan Khofifah-Emil.

Masih kata Hamid, Kiai Darwies merupakan anggota Majelis Pertimbangan PW IKA PMII Jatim. Kiai Darwies mengatakan IKA PMII bekewajiban mendukung Khofifah pada Pilgub Jatim secara kelembagaan jug keanggotaan. Sebab Khofifah adalah alumni PMII.

Hamid menilai seruan wajib yang bersifat fardu ain itu sungguh diluar nalar.

”Namanya pesta demokrasi, kalau ada seruan wajib apalagi katanya fardu ain ini patut dipertanyakan,” ucap Hamid.

Hamid berharap Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim memberikan penjelasan statemen tersebut.

”Hukum fardu ain dalam hal dukung mendukung apakah ini dibenarkan,” tanyanya. “Apalagi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sarat muatan kepentingan,” tuturnya.

Hamid menanyakan keabsahan seruan Kiai Darwis tersebut dari sisi kelembagaan terlebih PWNU Jatim. Hamid menambahkan, para kiai dilingkungan NU biasanya melakkan bahtsul masail terlebih dahulu sebelum mengeluarkan statemen yang bersifat fatwa apalagi berkait dengan wajib tidaknya suatu masalah.

Hamid mengatakan, jaringan santri NU juga menanyakan keberadaan PMII Jatim yang dinilainya sudah terseret arus politik terlalu dalam.

”Semestinya jadi kontrol sosial, kontrol masyarakat dan kontrol demokrasi,” ulasnya.

“Sebagai wadah berkumpulnya para mahasiswa, apalagi ini soal suksesi, jangan kemudian larut dalam aksi dukung mendukung,” pungkasnya.