Pemkot Akan Beli Bangunan Cagar Budaya

Penjara Kalisosok

Penjara Kalisosok

Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana akan membeli bangunan bekas penjara Kalisosok. Upaya mengambil alih kepemilikan ini sebagai usaha pemerintah untuk melestarikan cagar budaya yang dibangun pada tahun 1913 oleh kontraktor Hollandsche Beton Maatschapiji.

Pemkot Surabaya bertekad akan merealisasikan pembelian itu. Sebab, bangunan peninggalan Gubernur Jenderal Herman Williams Daendels memiliki nilai sejarah.

“Saya tertarik membeli Kalisosok karena nilai sejarahnya,” ungkap Tri Rismaharini (Risma) Walikota Surabaya.

Masih kata Risma, sebelum jadi penjara pada zaman kolonial, Kalisosok sebenarnya markas tentara penjajah. Banyak senjata dan peralatan tempur yang disimpan di Kalisosok.

“Bapak saya pernah nyuri senjata disitu, dulu itu jadi markas para penjajah,” terangnya.

Risma akan menjadikan eks penjara Kalisosok sebagai sentra makanan, penjualan produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Depo Angkutan Massal Cepat (AMC) berupa monorail dan trem.

Tidak cukup hanya itu, Kalisosok rencananya akan disulap menjadi museum sejarah penjajahan di Kota Pahlawan.

“Insyaallah tahun ini sudah kita beli, kita masih hitung pendapatan, karena dari beberapa properti yang disewakan ada pemasukan bagi kita,” terang Risma.

Moch Machmud Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya mendukung rencana Pemkot Surabaya membeli eks penjara Kalisosok.

Sebab, tempat itu termasuk cagar budaya yang harus dilestarikan oleh Pemkot Surabaya. Kalau dibiarkan tidak dikelola pemerintah, bukan tidak mungkin akan rusak.

“Saya lebih senang itu dibeli pemkot, karena itu ada nilai sejarahnya,” katanya.

Machmud tidak mempermasalahkan tempat itu akan dikemas sebagai sentra bisnis seperti pemasaran produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Meski begitu, dia menghimbau agar nilai historisnya lebih ditonjolkan ketimbang nilai bisinis. Ia menghimbau, bangunan itu tidak dirombak karena termasuk cagar budaya tipe A (tidak boleh ada perubahan fisik).