Pedagang Dan Satpol Ribut

pasar2Surabaya – Suasana sudah memanas sebelum memasuki ruang Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

Muhammad koordinator pedagang Pasar Keputran bahkan menantang Irvan Widyanto Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya.

Semua itu berdasar keputusan Irvan yang memberlakukan jam buka secara sepihak yaitu mulai pukul (pk) 21.00 hingga pk 05.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) menjadi pemicunya.

Emosi Muhammad semakin tidak terbendung kala Irvan mengatakan akan merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tumpah di jalan kawasan Pasar Keputran.

Irvan belum memastikan kapan akan dilakukan, dan Irvan beralasan masih menunggu solusi yang tepat.

Muhammad beranggapan tudingan mengganggu jalan tidak benar. Justru aparat Sapol PP yang bersikap arogan kepada pedagang. Tidak sedikit PKL Keputran yang mendapat perlakuan kasar.

Dan kesekian kalinya Muhammad menantang Irvan untuk berkelahi. “Ayo keluar, kita duel di luar, ayo,” timpal Irvan.

Tidak berlangsung lama Sachiroel Alim Anwar Ketua Komisi C menengahi. Menurutnya, problem Pasar Keputran harus diselesaikan dengan kapala dingin. Hal itu karena menyangkut hajat pelaku bisnis, terutama pedagang kecil Keputran.

H Muhammad bercerita, semula Pasar Keputran bisa dibuka pk 19.00 hingga pk 06.00 WIB. Tidak lama, hasil rembuk mufakat antara Satpol PP dengan perwakilan jam buka diundur mulai pk 20.00 hingga pk 06.00 WIB. Sayangnya, keputusan itu tidak berlaku lama, satpol PP dengan sewenang-wenang memberlakukan pk 21.00 hingga pk 05.00 WIB.

“Ini lama-lama pedagang dibuat bingung, bahkan bisa jadi akan buka mulai pk 00.00 WIB,” papar Muhammad.

Irvan menjelaskan, keputusan Pasar Keputran buka pk 21.00 hingga pk 05.00 WIB berdasarkan kebutuhan pengguna jalan. Harapannya, pukul 06.00 WIB keadaan jalan sepanjang Pasar Keputran sudah bersih.

“Setelah jam 05.00 WIB masih ada (pedagang) dan langsung diambil ke truk. Bahkan ada PKL, yang sampai pingsan,” ujar Supri selaku pedagang.

Simon Lekatompessy Wakil Ketua Komisi C menyarankan agar perwakilan pedagang membuat surat tertulis kepada Walikota Surabaya dengan tembusan DPRD Surabaya. Sebab, berkali-kali rapat, masalah Pasar Keputran tidak kunjung selesai. “Saya sudah bosan rapat terus,” katanya.