Minta Tidak Diperpanjang

Vinsensius

Vinsensius

Surabaya – Legislatif Surabaya kembali menyoroti keberadaan papan reklame yang ada pada jembatan viaduk Jalan Kertajaya. Pasalnya papan reklame yang menempel di rel Kereta Api (KA) izinnya berakhir pada bulan 11/2015 lalu. Parahnya lagi, hingga sekarang papan reklame tersebut berada pada bangunan Cagar Budaya dan masih kokoh terpasang.

Vinsensius anggota Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya mengatakan, dalam Peraturan Daerah Perda) tentang cagar budaya disebutkan.

Bangunan Cagar Budaya tidak boleh tertutupi oleh papan reklame. Dalam Perda itu juga disebutkan, bangunan Cagar Budaya tidak boleh dikurangi atau ditambah dengan hal-hal lain.

“Janganlah kita itu mengkomersialkan bangunan Cagar Budaya dengan dalih meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” kata Vinsensius.

“Mestinya bangunan bersejarah itu untuk dipertontonkan, untuk dirawat dan dilestarikan, bangunan Cagar Budaya itu mengandung unsur edukasi,” katanya.

“Saya meminta agar papan reklame yang menutupi viaduk Kertajaya, tidak diperpanjang perizinannya lagi, akhir bulan 01/2016 ini sudah seharusnya diturunkan,” tegasnya.

Eri Cahyadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (DPUCK) Surabaya menjelaskan, bahwa izin pemasangan reklame di viaduk Kertajaya ini akan habis akhir bulan ini.

Pada dasarnya tidak melanggar karena sudah ada izin dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Izin tersebut keluar lebih dulu dari PT KAI, baru kemudian keluar perda cagar budaya.

“Kemungkinan kami tidak akan memperpanjang perizinan karena ada banyak penolakan dari elemen masyarakat, khususnya dari kelompok pecinta seni budaya,” paparnya.

Hal yang berbeda disampaikan Wiwiek Widayati Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya. Bangunan cagar budaya boleh saja dipasang papan reklame. Namun ukurannya tidak boleh besar atau bahkan menutup bangunan cagar budaya.

Untuk memasang reklame dibangunan harus melibatkan tim Cagar Budaya untuk melakukan kajian. “Pemasagan reklame dibangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan, ada aturan mainnya,” pungkasnya.