Masuk Peti Es?: Polisi Usut Dugaan Korupsi Dana Hibah Kadin Jatim

logo kadin jatim

logo kadin jatim

Jawa Timur РTanggal 18 Juni, 11:42 PM portal_nasional@yahoo.com mendapat email dari enggowahono@yahoo.com sumber JARAK РJaringan Anti Korupsi http://www.jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/06/medianusantara-masuk-peti-es-polisi.html isinya,

Bahwa dugaan penyalahgunaan dana hibah Pemrov Jatim kepada Kadin Jatim mulai tahun 2011 sampai dengan 2014 memang berpotensial dikorup dan atau disalahgunakan. Untuk diketahui yang diperiksa oleh Polda Jatim adalah dana hibah yang tahun anggaran 2011 saja.
Polda Jatim bahkan telah melakukan gelar perkara atas kasus tahun 2011 ini. Hanya masalahnya adalah bahwa kita akan lihat, apakah  Polda Jatim akan berani mengusut dan atau meneruskan kasus ini? dikarenakan yang dihadapi oleh Polda Jatim adalah sosok La NYalla Mattalitti yang merupakan ketua Kadin Jatim sekaligus juga ketua MPW Pemuda Pancasila Jatim. yg sangat ditakuti di Jatim. Dan konon sang tokoh yang juga merupakan pengurus PSSI ini sudah berkomunikasi dengan Kapolda untuk membahas masalah ini. info terakhir berdasar ungkapan Diar Kusuma, Direktur Persebaya yang juga merupakan pengurus kadin Jatim, bahwa Kadin telah berikan uang sebesar Rp 2 Milyar agar kasus ini tidak berlanjut. Uang tersebut alasannya adalah merupakan dana monitoring dan itu sah2 saja, karena tidak mungkin dana monitoring kegiatan Kadin jatim dibebankan pada Anggaran dari Polri. Akibatnya proses penyelidikan dari Polda terkesan asal-asalan.

Bahwa berdasarkan info kasus penyalahgunaan dana hibah ini diawali sejak tahun 2011 senilai Rp 15 Milyar, digunakan oleh kadin untukpembiyaan kegiatan pelatihan, proyek Bisnis to Bisnis antar propinsi. Disinilah penyalahgunaan terjadi, dimana banyak dokumen yang tidak wajar dan penuh dengan mark up. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:
Biaya atau kegiatan akomodasi dan konsumsi yang tidak wajar, baik dilihat dari
ticket pesawat, konsumsi katering maupun restoran. Juga biaya kegiatan dan akomodasi

Konon biaya2 tersebut datanya dipalsukan, data dibendahara Kadinpun tidak ada data pengeluaran kecuali nama pencairnya. Bahkan begitu dana dari pemprop Jatim masuk kerekening kadin, oleh oknum kadin dana tersebut semuanya langsung dipindahkan kerekening pribadi dan atau rekening klub sepakbola Persebaya (dimana persebaya setelah diambil alih oleh La Nyalla Mattalitti adalah bernaung atas nama perusahaan PT Mitra Muda Inti Berlian, dengan direkturnya bapak Diar Kusuma Putra). Hal ini berlangsung terus sampai tahun 2014, dimana setiap tahunnya Kadin Jatim selalu mendapatkan dana hibah dari pemprop Jatim yang besarnya minimal Rp. 20-an milyar/tahun, yang dananya diambilkan dari dana APBD Jatim.

Jika dilihat dengan teliti, anehnya lagi semua pelaporan keuangan atas dana hibah ini dari tahun ketahun adalah hanya copy paste dari pelaporan data yang bermasalah ditahun 2011, mereka hanya merubah angka,  tanggal dan tahunnya saja

siapa “mereka” yang dimaksud diatas? untuk diketahui bahwa dari Proposal kegiatan sampai laporan kegiatan Kadin Jatim dari Dana Hibah tersebut bukan dibuat oleh Kadin Jatim, tapi dibuat oleh oknum pegawai negeri dari Balitbangda Pemprov Jatim yang berinisial HR dengan dibantu oleh Dr NS (NS selain pegawai negeri di Balitbangda Pemprov Jatim, dia juga merupakan salah satu Wakil Ketua Kadin Jatim).

Kenapa Kadin Jatim memakai HR? karena direkomendasikan oleh Dr NS dengan alasan bahwa HR telah berpengalaman membuat proposal dan pelaporan dana hibah seperti P2SEM dan yang dibuatnya selalu tidak ada permasalahan seperti dana P2SEM yang lain yang terbongkar dugaan markup & korupsnya. Kadin Jatim menyetujui keterlibatan HR atas pengelolaan dana hibah tersebut dengan ongkos untuk HR sebesar Rp 600 Juta per tahun. Menurut info HR inilah
yang menyiapkan banyak kwitansi2 Aspal bahkan palsu, termasuk puluhan stempel palsu baik dari katering, restoran, tickteting dll.

Diharapkan KPK bisa memback-up Polda Jatim dalam pengusutan dugaan korupsi dana hibah Kadin Jatim ini, karena selama ini pihak Polda tidak pernah melakukan penggeledahan, ini yang membuat alat buktinya hanya dilihat dari kejanggalan pelaporannya saja, dan saat Tim Poda mendatangi tempat pelatihan-pun, kehadiran Polda dalam monitoring diberitahukan terlebih dahulu ke Kadin Jatim dan minta ditemani oleh pengurus Kadin Jatim. Akibatnya jejaknya-pun sudah dibersihkan.

Yang diperiksa oleh Polda Jatim hanyalah dana hibah tahun anggaran 2011 saja. Alasan yang dikemukakan kadin Jatim pada Polda jatim adalah, bahwa untuk dana hibah dari APBD Jatim pada Kadin Jatim untuk tahun anggaran 2012, 2013 dan 2014 sudah bekerja sama dengan  Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Dan untuk itu Kejati Jatim dilibatkan dalam program monitoring dengan dianggarkan dari dana hibah tersebut sebesar Rp. 1 milyar/tahun. Benarkah demikian?