Komisi D Dukung Pelaksanaan UN Online Untuk Siswa SMA Dan SMK

 Ibnu Shobir

Ibnu Shobir

Surabaya – Kesiapan surabaya sebagai pilot project untuk lebih baik dalam memajukan pada dunia pendidikan di Indonesia. Rupanya hal tersebut mendapat apresiasi dari kalangan anggota Komisi D yang membidangi masalah Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya.

Seperti yang disampaikan Ibnu Shobir merupakan salah seorang dari anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya. Bahwa dirinya sama sekali tidak menjamin bilamana Ujian Nasional (UN) nantinya tidak luput dari kecurangan.

Ibnu menambahkan, meskipun demikian Komisi D yang juga membidangi masalah pendidikan sangat mendukung progam yang digagas dari pemerintah pusat melakukan Unas secara online.

“Kecurangan itu tidak bisa dilihat dari sebuah alat, tetapi lebih di wilayah komitmen, artinya, meskipun ujian dilakukan dengan menggunakan media apapun pasti akan ada kecurangan sebelum ada kesadaran yang dilakukakan oleh orangnya sendiri,” terang Ibnu.

Masih kata Ibnu, yang harus ditanyakan adalah sifat dari kebenaran dan kejujuran dari semua pihak. Sebab, jika sudah berpegang teguh dengan kebenaran, dirinya menjamin masalah tentang kecurangan atau kebocoran soal Unas sudah dipastikan tidak akan terjadi.

“Karena sebuah kecurangan itu adalah problem mental dari orangnya, dan tidak menutup kemungkinan lewat online pun kecurangan bisa dilakukan,” paparnya.

“Buktinya apa, dengan kertas saja bisa, mengunakan online pun pasti juga bisa pokoknya tergantung orangnya,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Khusnul Khotimah yang juga anggota Komisi D. “Maka dari itu, pemerintah pusat berani mencoba terobosan baru UN akan menggunakan secara online,” ungkapnya.

Khusnul meyakini, siswa-siswi Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/K) pasti sudah merasa siap serta mampu untuk mengerjakan soal UN dilakukan dengan online. Sebab, komputer saat ini sudah sangat familiar di kalangan siswa.

Khusnul mengingatkan pada pelaksana program UN online yang tidak lama lagi akan diterapkan. Yang perlu ditekankan adalah bagaimana pemerintah nanti harus menyiapkan progam komputernya yakni software dan alat perangkat lainnya supaya pada saat tengah dipergunakan tidak mengalami kendala.

“Karena nanti bisa jadi jika waktu siswa mengerjakan UN tiba-tiba progamnya ngadat atau jaringanya lemot itu bisa menurunkan semangat dan mental para siswa,” ungkapnya.

“Dan juga sebagai catatan, UN ini adalah bukan menjadi patokan untuk syarat kelulusan, tapi ada ujian sekolah dan ujian yang lain untuk mendukung nilai mereka,” jelasnya.

“Tidak semua sekolah mengikuti UN secara online. Tapi itu itu tidak apa-apa, pemerintah pasti akan menyiapkan secara khusus bagi sekolah yang tidak mengikuti Unas online,” terangnyanya.

“Mengenai anggaran untuk program UN online bagi SMA dan SMK saat ini, berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanjda Nasional,” pungkasnya.