KJPL, Ada Apa Dengan Pemkot

Surabaya – Makin meluasnya kerusakan hutan mangrove di Kawasan Pesisir Utara dan Timur Surabaya (Pamurbaya) jadi perhatian serius generasi muda Surabaya.

Perhatian dan keseriusan ini disampaikan para generasi muda di pameran-hari-pohon-17Surabaya yang terlibat aktif dalam Workshop Peringatan Hari Pohon se Dunia yang digelar Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL) Indonesia.

Dalam workshop yang dipandu Anas Pandu Gunawan Humas KJPL Indonesia, para remaja khususnya pelajar dan mahasiswa yang hadir dalam workshop itu mengaku kaget dan kecewa dengan semakin rusaknya hutan mangrove di Surabaya.

“Saya tidak menyangka kalau kondisi hutan mangrove di Surabaya yang katanya bagus ternyata sangat rusak parah oleh ulah para pengembang dan pihak swasta lain yang ada di pamurbaya,” kata Anwar Sadad aktivis lingkungan.

“Tapi kenapa sampai sekarang Walikota hanya diam dan tidak pernah teriak-teriak hutan mangrovenya rusak, tidak sama waktu tamannya rusak,” tanyanya.

“Kalau hutan mangrove di Surabaya rusak, maka ini jelas mengancam masa depan kami sebagai generasi muda,” tegas Anin yang juga aktifis lingkungan.

Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia menjelaskan, kerusakan hutan mangrove itu disebabkan tidak tegasnya Pemkot Surabaya dalam menegakan peraturan daerah yang sudah ada.

“Surabaya itu punya perda tentang penebangan pohon, sampah, dan ruang terbuka hijau, tapi semua hanya tegas di atas kertas, dalam prakteknya hanya macan ompong,” papar Teguh.

Menurut Teguh, sesuai dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 112 disebutkan kalau ada pejabat berwenang yang dengan sengaja membiarkan terjadinya kerusakan lingkungan diwilayahnya dapat dipidana selama satu tahun penjara dan dengan Rp (rupiah) 500 juta rupiah.

“Bukan besar kecilnya denda dan lama masa hukumannya yang penting, tapi paling penting adalah bagaimana pejabat publik di Surabaya yang berwenang dalam hal ini adalah Walikota Surabaya untuk bertanggung jawab dengan rusaknya hutan mangrove di Wonorejo dan Kawasan Greges, Kalianak juga Romokalisari,” tegas Teguh.

“Fungsi mangrove selain sebagai penyerap polusi, rumahnya ikan dan biota laut lainnya, mangrove juga menjadi rumah untuk burung, satwa liar lain seperti kera, ular, nyambek, dan masih banyak lainnya, mangrove juga memberi manfaat ekologis untuk manusia termasuk manfaat ekonomi,” pungkas Teguh.