Kita Akui Sudah Ada, Miras Ingin Tidak Diatur

Blegur Prijanggono

Blegur Prijanggono

Surabaya – Upaya pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian Minuman Beralkohol yang dibahas Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Pansus DPRD) Surabaya, mulai ditentang oleh pihak-pihak yang merasa sangat dirugikan.

Bahkan adanya dana yang sengaja dikeluarkan untuk membelokan pengaturan peredaran minuman keras (Miras). Agar penjualan miras itu tak dilarang di tempat rekreasi dan hiburan umum (RHU) serta retail yang tersebar di Surabaya.

Bahkan Pansus Raperda Miras itu sudah didekati pengusaha yang tidak ingin miras dilarang melalui oknum wartawan. Oknum itu mengarahkan kepada pihak Pansus agar miras yang diatur itu hanya jenis cukrik saja. Dengan alasann, cukrik itulah yang selama ini banyak memakan korban jiwa karena oplosannya.

Blegur Prijanggono Ketua Pansus Raperda Pengendalian Minuman Beralkohol  mengatakan, pihaknya tidak mau diintervensi siapapun terkait pembahasan tersebut. Apalagi hanya memasukan cukrik dalam Raperda tersebut, sementara minuman beralkohol lainnya tidak diatur.

“Regulasi yang kita bahas ini mengatur semuanya, tidak hanya 1 jenis miras saja, apalagi cukrik itu sudah diatur tersendiri, karena cukrik itu merupakan minuman oplosan,” tambahnya.

“Kita sendiri sudah tahu kalau minuman beralkohol itu masih dijual bebas di tempat manapun, dan siapapun bisa membelinya tanpa ada pengawasan yang jelas, inilah yang kita atur dan tidak ada pembedaan apapun, terkait adanya utusan yang ingin menggembosi Pansus, kita akui sudah ada,” papar Blegur.

Blegur menegaskan, di hotel, di restoran, minimarket dan lainnya, saat ini sangat mudah menemukan miras. Yang bisa menjualnya adalah Miras yang diatur itu juga yang termasuk minuman beralkohol yang terdata di Balai POM dan memiliki cukai.

Dalam aturan itu juga akan membentuk asosiasi yang mengawasi penjualan minuman beralkohol, mereka ini bisa saja dari importir miras yang mengetahui berapa kebutuhan miras di Surabaya.

Sementara, di sebuah media cetak menurunkan pemberitaan tentang bantahan agar tidak ada pengaturan miras di Surabaya.

Organisasi non-profit yang bergerak dalam pendampingan terhadap korban narkotika dan obat terlarang di Jawa Timur (Jatim) menyatakan jika regulasi yang mengatur dan melarang peredaran dan penjualan miras beralkohol sangatlah tidak efektif.

Alasannya, meminum miras ini sudah menjadi kebiasaan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam statemennya, dikatakan, tidak semua orang yang meminum minuman keras itu untuk mabuk. Meminum minuman keras seperti wine hanyalah untuk rekreasi dan melepaskan diri dari kepenatan.

Asrori Ketua Ansor Surabaya M Asrori menegaskan, masalah pengaturan peredaran dan penjualan miras itu tidak bisa dikatakan tidak efektif. Justru itu sangat efektif agar tidak dijual bebas.

“Kita ingatkan, masalah meminum miras tradisional ini hanyalah budaya, bukan kebiasaan, apalagi dikatakan minum miras itu hanya untuk rekreasi dan menghilangkan kepenatan, itu sudah tidak masuk akal,” terangnya.

“Seolah tidak ada agama yang mengatur keimanan seseorang jika miras itu untuk rekreasi dan menghilangkan kepenatan, kita sangat mendukung aturan itu,” tegas Asrori.

Masih kata Asrori, pihaknya siap mengawal pembuatan regulasi pengendalian miras. Dia menegaskan, dampak miras itu sudah jelas lebih banyak mudoratnya daripada manfaatnya.