Kisruhnya Penutupan Dolly Hal Yang Biasa

Moch Machmud

Moch Machmud

Surabaya – Moch Machmud Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya sepakat apabila lokalisasi Dolly ditutup tanggal 19/06/2014 mendatang oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Bahkan Machmud menganggap, apabila dalam penutupan terjadi kisruh itu adalah hal yang wajar dan sudah biasa terjadi.

“Saya sudah sampaikan kepada Bu Risma secara lisan, jangan gentar terhadap pihak yang menentang penutupan dolly,” tambahnya.

“Baik dari internal Pemkot Surabaya maupun eksternal, pokoknya saya mendukung 100 persen penutupan dolly, jangan sampai ada yang tersisa satu pun,” tegasnya.

Bahkan sejumlah warga dan Pekerja Seks Komersial (PSK) juga sudah mendapat penghasilan dari pekerjaan yang lain. Tri Rismaharini (Risma) Walikota Surabaya mengatakan, pihaknya akan terus mendata jumlah warga yang terdampak atas penutupan ini. Pendataan ini tidak mudah. Sebab, harus cari satu persatu.

Saputro Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu (GRB) mengatakan, dari 5 Rukun Warga (RW) di Keluraan Putat Jaya yang terdampak atas penutupan Dolly, tidak ada yang sepakat jika lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu ditutup.

Selama ini, Pemkot Surabaya dianggap hanya menjual janji-janji saja. Jika pemkot berencana memberi ganti rugi pada warga terdampak.

Nyatanya sampai saat ini belum ada yang menerima ganti rugi. Warga juga tidak percaya jika nanti Dolly akan diubah oleh pemkot menjadi sentra perdagangan.

Sebab, lokalisasi yang sudah ditutup seperti Tambakasri, hingga kini masih beroperasi seperti biasa. Justru warga setempat hidupnya makin sulit setelah lokalisasi ditempat tersebut ditutup pemkot.