Keterangan Menyesatkan, Siswa Berprestasi Terancam Tidak Masuk PTN

supomoSurabaya – Program bibit unggul yang berada di Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya kembali mendapat sorotan. Sebab program unggulan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu membuat kebijakan yang cukup kontroversial dengan menolak siswa berprestasi, Rinaldi Sam Prabowo merupakan siswa dari Sekolah menengah Atas Negeri (SMAN) 7.

Padahal dari persyaratan nilai akademis yang ditetapkan, sebenarnya Rinaldi memenuhi kriteria itu, dengan nilai akademiknya rata-rata 8 ke atas. Sedangkan, syarat yang ditetapkan untuk bisa masuk pada program bibit unggul nilainya 7,5 per mata pelajaran di setiap jenjang kelas di SMA maupun Madarasah Aliyah (MA).

“Jujur saya kecewa jika tidak bisa masuk lewat program ini, padahal, saya sudah berusaha keras semenjak pertama kali masuk SMA,” kata Rinaldi.

Masih kata Rinaldi, sebenarnya dirinya telah berupaya mengusulkan bantuan pembayaran uang gedung masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebesar Rp (rupiah) 3 juta ke Dinsos. Namun dana yang diharapkan tidak bisa didapatkan.

“Kata petugas yang jaga, anggaran yang saya butuhkan terlalau besar,” tambahya.

Dijelaskan Rinaldi, dirinya nekat meminta bantuan bayar uang gedung ke Dinsos karena berasal dari keluarga kurang mampu. Padahal, dirinya telah diterima masuk di politeknik perkapalan negeri surabaya (PPNS) untuk jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Achmad Hidayat Ketua Garda Muda Bibit Unggul Surabaya mengaku geram dengan batalnya Rinaldi masuk PTN, padahal untuk semua persyaratan telah dipenuhi.

“Kata Dinsos, pendaftaran belum dibuka, katanya baru dibuka pada bulan 06, 07 atau bulan 08, kalau kita nuruti itu, ya hangus kesempatan Rinaldi untuk masuk PTN,” sasalnya.

“Dulu jamannya Cak Narto (Sunarto Sumoprawiro) Walikota Surabaya peserta bidik bibit unggul sangat banyak, bahkan untuk mahasiswa yang lulus langsung dijadikan Pegawainegeri Sipil (PNS), tapi sekarang malah sebaliknya,” kritiknya.

“Memasuki tahun 2012, mahasiswa yang diterima masuk ke asrama bibit unggul hanya 4, bahkan pada tahun 2013 hingga saat ini tidak ada mahasiswa yang diterima,” ungkapnya.

Supomo Kepala Dinsos Surabaya menjelaskan, alasan dirinya tidak mengeluarkan anggaran untuk Rinaldi karena tidak memiliki anggaran. Sebab untuk dana Personal Social Responsibility (PSR) diperuntukkan untuk siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA.

“Kalaupun ada, kita tunggu Daftar Pencairan Anggaran (PDA) dulu, kalau tidak salah bulan 06/2014, kalau kemarin dikatakan pendaftaran terakhir, jujur kita tidak bisa membantunya,” jelas Supomo.

bak“Anggarannya sudah kita sahkan untuk program bibit unggul, kalau sekarang tidak bisa mengeluarkan akan aneh,” pungkas Baktiono Ketua Komisi D bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.