Kenapa UPT Dikbangkes Harus Bubar

pejabat ess III diknas prov jatim, dan undangan

pejabat ess III diknas prov jatim, dan undangan

Jawa Timur, portal nasional ‚Äď Wadah pelestarian seni dan tradisi budaya yang di khususkan untuk guru dan siswa didik di pemerintah provinsi Jawa Timur ini harus berakhir karena dibekukan oleh Soekarwo, Gubernur Jawa Timur.

Meski dengan adanya UPT Dikbangkes, diakui atau tidak, pemerintah Provinsi Jawa Timur mampu menyabet berbagai gelar pertunjukan festifal seni dan tradisi budaya pelajar tingkat nasional, selayaknya UPT Dikbangkes tidak diutak atik oleh pejabat lain.

Akhir tahun 2015, malam 31 Desember, satu hari sebelum malam Tahun Baru, tepatnya tanggal 30 Desember 2015 malam, UPT Pendidikan Pengembangan Kesenian Sekolah (Dikbangkes) Dinas Pendidikan Provinsi menghelat pertunjukan terakhirnya.

Kegiatan Padang Rembulan yang digelar malam itu merupakan perjalanan akhir dari berdirinya UPT Dikbangkes Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Sangat disayangkan keberadaan UPT Dikbangkes sebagai wadah kreatifitas seni dan tradisi budaya pada lingkup sekolahan dimana sekaligus wujud pelestarian budaya pada usia dini (siswa sekolah) harus dibubarkan.

Dan sangat disesalkan perilaku pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prrovinsi Jawa Timur karena telah menginginkan kegiatan yang dilakukan UPT Dikbangkes yang selama ini dibawah kendali Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, diminta untuk bisa dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prrovinsi Jawa Timur.

Memang sangat mengherankan jika Pendidikan dan Pengembangan Kesenian di Sekolah (Dikbangkes) tersebut dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

‚ÄúDikbangkes itu pembelajaran seni sekaligus pelestarian budaya lewat sekolahan. Dan terlihat aneh jika Dikbangkes dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,‚ÄĚ ungkap sumber yang dipercaya.

Menurut sumber, selayaknya Soekarwo, Gubernur Jawa Timur, mengembalikan UPT Dikbangkes ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur segera mungkin, agar pelestarian seni dan tradisi budaya pada usia dini di Jawa Timur tidak berhenti.

‚ÄúSaya yakin ada pejabat yang tidak memahami unggah ungguh adat dan budaya bangsa di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur sehingga harus mengambil hak dan pekerjaan milik orang lain. Dan pejabat seperti ini layak dipertanyakan kredibilitasnya, sebagai pelaku tradisi bangsa atau pengkhianat tradisi bangsa,‚ÄĚ ungkap sumber./*