Kasus Di SP3 Kok Masih Ada Vonis Penjara

ilustrasi, sapi bunting

ilustrasi, sapi bunting

Pare pare — Tiga peternak kasus bansos sapi bunting divonis 1 tahun 4 bulan penjara. Ketiganya masing-masing Ketua Kelompok Tani (Poktan) Lontangge Hasanuddin, Ketua Poktan Massiddi Sukardi Bin Lawise, dan Ketua Kelompok Tani Usaha Baru, Muhammad Saleh.
Ketiga tersangka tersebut terlibat kasus korupsi pengadaan sapi betina bunting untuk tahun anggaran 2012 yang bersumber dari APBD Provinsi Sulsel senilai Rp 600 juta.

Dan setiap kelompok tani memperoleh kucuran dana Rp 200 juta, untuk pemeliharaan sapi dimaksud. Namun, sebagian besar anggaran tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Selama dibui, tanggungjawab keluarga mereka sebagai kepala rumah tangga beralih ke istri. Sebut saja Mahira (istri Sukardi), terpaksa melakoni pekerjaan ganda mengurus ternak hingga menjadi mengolah jambu mete.

“Mau bagaimana lagi. Kami punya empat anak yang mesti dinafkahi,” kata Mahira.

Mahira mengaku pasrah dengan hukuman yang dijatuhkan pada suaminya. Padahal, dia tahu persis suaminya hanya menikmati bagiannya sendiri, sekitar Rp 3 jutaan dari total Rp 200 juta dana bansos yang dia pertanggugjawabkan.

“Tidak mungkin suami saya berbuat korupsi, itu karena ada pejabat yang bilang ‘atur saja” tanpa menjelaskan kepada kami keperuntukkan bansos dengan yang sebenarnya,” beber Mahira.

Mereka juga menyadari, mengikuti proses hukum tanpa didampingi pengacara tentu sangat beresiko. Namun mereka bukannya tidak punya usaha meringankan hukuman suami. Beberapa hari sebelum vonis, Mahira bersama istri dua terpidana lainnya harus berboncengan tiga ditengah malam.

“Kami pergi cari orang yang bisa bantu bikin pembelaan (pledoi).
Soalnya selama ini suami kami tidak punya pengacara,” katanya. Kasus bansos sapi bunting mulai bergulir 2012 lalu. Kala itu Dinas PKPK menyerahkan Rp 600 juta kepada tiga kelompok tani, untuk perawatan sapi bunting. Sepuluh persen jadi “jatah” pejabat.

Diduga dinikmati Kadisnya, Damil Husain dan PPK yang belakangan mengembalikan jatah itu dan lolos dari jerat hukum. Pasalnya di SP3 oleh Kajari Parepare dengan menerbitkan surat penghentian penyidikan. Meski demikian perkara tiga peternak itu, tetap dilanjutkan hingga vonis, Rabu lalu. (UCI)