Izin Akan Dicabut

cagar budayaSurabaya – Rapat dengar pendapat di Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya terkait pembongkaran bangunan cagar budaya bangunan Radio Pemberontakan yang menjadi tempat Bung Tomo menggelorakan semangat warga Surabaya untuk melawan penjajah, berlangsung tegang.

Wiwik Widayati Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Surabaya mengatakan, bangunan yang berada di Jl Mawar yang saat ini kondisinya telah rata dengan tanah adalah bangunan kuno peninggalan di zaman Belanda sehingga layak mendapatkan konservasi dengan sebutan cagar budaya.

Riski Arkeolog Tim Cagar Budaya Trowulan menyampaikan, tidak semua bangunan di lokasi tersebut masuk cagar budaya. “Memang kami temukan beberapa jenis batu-bata kuno dan kayu,” tambahnya. “Tapi posisinya ada di bangunan sisi belakang, tetapi untuk sisi depan, material bangunannya memang baru,” ucapnya.

“Dari data kami, bangunan itu telah mengalami renovasi berdasarkan Izin Mendirikan Bangnan (IMB) yang dikeluarkan tahun 1975, mulai pondasi hingga struktur diatasnya,” terang Eri Cahyadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta (PUCK) Surabaya.

“Karena surat ijin yang kami keluarkan hanya berbunyi untuk renovasi,” paparnya. “Demikian juga dengan rekomendasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar),” jelasnya.

“Tetapi pemohon justru malah membongkar total, maka ini sudah menyalahi ketentuan, untuk itu kami siap mencabut ijin-ijin itu,” tegasnya.

”Apalagi, Radio Pemberontakan milik Bung Tomo erat kaitanya dengan Resolusi Jihad yang didengungkan Hadratusyeh KH Hasyim As’ary,” kata Samsul Arifin Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Surabaya, .

Masih kata Samsul, Radio Pemberontakan yang menjadi tempat Bung Tomo menggelorakan semangat arek-arek Surabaya dengan pekikan takbirnya, jelas merupakan Cagar Budaya.

”Bagaimana generasi muda bisa belajar kalau bukti sejarah dihancurkan begitu saja, kalau perlu Pagar Nusa kita terjunkan untuk mengawal di lokasi,” ungkapnya.