Ijin Dipersulit, Investor Akan Meninggalkan Surabaya

Stand Pasar Buah

Stand Pasar Buah

Surabaya – Keinginan investor menyulap eksistensi Pasar Buah Koblen (PBB) menjadi pasar khusus buah-buahan terhambat.

Disebabkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak memberikan ijin pengelolaan. Padahal, ratusan stan yang berdiri diatas lahan bangunan Cagar Budaya tipe C ini telah terisi ribuan pedagang.

PT Dwi Budi Wijaya (DBW) selaku investor sendiri menargetkan proses penambahan stan bisa dilakukan sampai 600 stan. Dengan rincian setiap stannya berukuran sekitar 2×3 meter (m) dapat terisi 2 hingga 3 pedagang.

”Sayangnya saat ini perijinan Pajak bumi dan Bangunan (PBB) kami masih tertahan di Pemkot, selama ini kami mengelola pasar tersebut dengan baik dan taat aturan, harapannya agar pasar buah koblen dapat menjadi sentra pasar tradisional khusus buah-buahan,” kata I Wayan Arcana Direktur PT DBW.

“Saya sudah minta pada Pemkot perinciannya pajaknya berapa di Pasar Koblen ini, namun pemkot belum juga menurunkan rinciannya, jadi, saya belum bisa bayar pajak,” tambahnya.

”Seharusnya tidak perlu dipersulit. Toh, mereka selama ini sudah mengelola dengan baik kondisi pasar,” kata Rusli Yusuf Ketua Komisi B bidang Perekonomian (Eko) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

”Ini sangat kontra produktif dengan belum dikeluarkannya perijinan bagi investor,” terang Rusli.

Oktavianus selaku pedagang mengungkapkan, bahwa Pasar Koblen ini dibuka sekitar tahun 2010. Sebelumnya, para pedagang yang mayoritas berjualan buah, membuka jualannya di pinggir jalan.

Dari Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK) juga menunjukkan bahwa, kawasan ini merupakan kawasan perdagangan.

“Saat ini sudah ada sebanyak 500-an stan yang berdiri dalam bentuk tenda-tenda tidak permanen, sebelumnya kami sudah diminta pemkot untuk mengajukan izin pendirian bangunan, sampai sekarang belum juga turun izinnya,” keluhnya.

Rusli menganggap, lambannya perizinan dari pemkot ini sebuah pertanda buruk iklim investasi di Surabaya.
Jika situasi seperti ini berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin para calon-calon investor akan hengkang dari Surabaya.

“Yang perlu diketahui sekarang, apakah rencana pembangunan stan di Pasar Koblen ini sejalan dengan program dan rencana pemerintah, jangan sampai investor sudah mengeluarkan uang banyak, tapi ternyata tidak sesuai dengan rencana kota,” jelasnya.