Harun : Jawa Timur Paling Siap Menerima Kurikulum Berbasis Keterampilan

harun (tiga dari kanan) kadispendik jatim1

harun (empat dari kanan) kadispendik jatim

Jawa Timur – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Wardiman Djojonegoro mengatakan, data yang diperoleh dari Bank Dunia hingga Juni 2014, sebanyak 70% tenaga manajer di Indonesia tidak memiliki pekerjaan yang sesuai keahliannya.

“Tenaga kerja Indonesia belum bisa bersaing dengan tenaga kerja asing, ada sekitar 70% manajer di Indonesia tidak bisa menemukan pekerjaan yang sesuai keahliannya,” kata Wardiman dalam seminar di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur lalu.

Wardiman menambahkan, kondisi tersebut terlihat dengan terhentinya rencana pendirian pabrik perakitan mobil Volkswagen (VW) di Gresik, kondisi tersebut terjadi karena sulitnya mendapatkan tenaga kerja sesuai dengan keahlian khusus ataupun kualifikasi tersebut.

“Pabrik yang akan dibangun di Gresik ini lebih besar dari Jakarta. Cuma sekarang terhenti karena sulit memperoleh tenaga kerja,” jelas Wardiman.

Menurut Wardiman, SMK harus siap menyongsong pasar bebas ASEAN 2015 mendatang. Untuk itu perlu ada pendalaman soft skill, seperti ketepatan waktu, pemahaman kualitas serta sistem kerja yang baik.

Harun, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, mengatakan, adanya sinergisitas antara dunia pendidikan dengan dunia usaha sangat dibutuhkan. Apalagi, Jawa Timur memiliki SMK yang sangat banyak dengan kualitas pendidikan yang sangat baik dibandingkan dengan daerah provinsi yang lainnya. Dan ini dibuktikan dengan keinginan PT Astra Daihatsu Motor melakukan pelatihan kepada guru “Jawa Timur paling siap menerima kurikulum yang berbasis keterampilan,” ungkap Harun.

Dengan adanya pasar bebas yang diberlakukan tahun 2015 dan adanya kerjasama antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, sektor penyerapan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha akan menjadi program kurikulum sekolah yang sekaligus sebagai peningkatan kualitas pendidikan, khususnya untuk sekolah menengah kejuruan (SMK). Selain daripada itu, pelatihan kepada guru akan dilakukan untuk selanjutnya para guru yang mendapat pelatihan mampu memberikan pelatihan ulang ke para siswa.