Gratifikasi Di Lahan Pajak, Suap Atau Hibah

hadi purnomo

hadi purnomo

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk mendalami harta Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo yang pada tahun 2010 hartanya mencapai Rp 38 miliar lebih.

Di tahun 2004, Hadi tercatat memiliki tanah di Tanggamus, Lampung yang sebagian diperoleh dari hasil hibah. Sekitar tahun 1985 sampai 1987, tercatat memiliki tanah dan bangunan seluas 668 meter persegi di Jakarta Selatan, juga dari hibah. Tahun 1988, tanah dan bangunan seluas 11.150 meter persegi dan 300 meter persegi di Kota Depok juga diperoleh dari hibah.

Hibah juga ada di tahun 1985 berupa tanah seluas 2.900 meter persegi senilai Rp 8 miliar di wilayah Jakarta Barat dan tahun 1990 tanah seluas 1000 meter persegi senilai Rp 2 miliar di kota Jakarta Barat.

Pada tahun 1972 memiliki harta bergerak senilai Rp 1,5 miliar yang terdiri dari logam mulia senilai Rp 100 juta. Untuk hasil hibah mendapat batu mulia senilai Rp 400 juta dan pada 1979 hibah barang seni antik senilai Rp 1 miliar.

Hadi Purnomo yang ditangkap pada hari ulang tahunnya yang ke 67 tahun pada 21 April 2014 usai acara pelepasa sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masa periode 2009-2014 ini ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pajak PT Bank Central Asia (BCA) tahun 1999 yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan periode 2002-2004 dan dianggap merugikan negara sebesar Rp 375 miliar.

selain mengenakan pasal 2 ayat 1 dan atau ayat 3 Undang-Undang No.31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP. KPK juga menjerat Hadi Purnomo dengan dugaan tindakan melawan hukum dengan menyalahgunakan wewenang dalam menerima seluruh permohonan wajib pajak atas Surat Keterangan Pajak Nihil (SKPN) Pajak PT BCA tahun pajak 1999./*