Generasi Muda Dan Salah Kaprahnya HAM

siswa 1Surabaya – Anggaran pada dunia pendidikan yang mencapai lebih dari 20 persen patut dievaluasi baik dari Pemerintah Pusat, Pamerintah Provinsi (Pemprov) serta Pemerintah Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia.

Semua itu bukan tanpa sebab, berdasar fakta dilapangan perilaku para siswa sudah tidak mencerminkan dirinya mereka sebagai seorang terpelajar.

“Siswa sekarang sepertinya tidak mempunyai jiwa prestasi, yang ditonjolkan ada siswa yang suka mengintimidasi, menghancurkan rekan sendiri tepatnya dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain,” kata Bejo.

“Parahnya, ajang perkelahian dianggap sebagai hal yang positif, sedangkan prestasi nol besar,” tambahnya.

Sebagian masyarakat melihat ada yang salah dalam penerapan sistem Hak Asasi Manusia (HAM) di pendidikan. “Karena HAM itulah yang menyebabkan sistem pendidikan Indoonesia tidak sesuai yang diharapkan,” kata Lia.

“Tidak lama lagi kita akan dihadapkan dengan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), bisa apa para siswa Indonesia, bila dibanding dengan siswa negara lain,” ungkapnya.

“Berapa persen para siswa Indonesia sudah menguasai bahasa asing dan berapa persen yang sanggup berkompetisi dengan sehat,” kata Jhon.

“Kalau tersisih yang disudutkan adalah pemerintah dan penguasa, tidak percaya lihat saja nanti, tidak sedikit para orang tua siswa yang menanyakan hal tersebut, pada hal yang mendasar terlepaskan permasalahan itu, ya, orang tua siswa sendiri yang harus segera sadar,” kata Ragil.

“Kita akan menjadi bangsa yang tersisih dan generasi penonton bukannya pemain, bagaimana bisa ikut kompetisi, sedangkan mental mereka adalah mental hobi bertarung, tidak beretika dan tidak punya jiwa pemenang,” tambahnya.