Disbun Jatim Lakukan Koordinasi Pengawalan Taksasi Dan Rendemen Tebu

samsul arifin dan peserta koordinasi pengawalan taksasi dan rendemen tebu di jombang

samsul arifien dan peserta koordinasi pengawalan taksasi dan rendemen tebu di jombang

Jawa Timur – Untuk pengembangan komoditi tebu di Jawa Timur, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan pertemuan koordinasi “Pengawalan Taksasi Dan Rendemen Tebu” yang diselenggarakan pada 16 September 2014 lalu.di Hotel Yusro Jombang dan diikuti sekitar 140 peserta.

Diadakannya koordinasi tersebut membahas, salah satunya yakni permasalahan tentang rendemen. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memecahkan persoalan rendemen, maka diadakan forum pengawalan rendemen yang diikuti oleh asosiasi petani, koperasi petani, petugas kabupaten, Pabrik Gula (PG) dan Perguruan Tinggi. Gubernur juga telah menyiapkan tim penyelesaian permasalahan rendemen untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Dari data yang ada, produksi gula Jawa Timur tahun 2013 mencapai 1,275 juta ton. Dari produksi tersebut, dipergunakan untuk konsumsi Jawa Timur sebesar 400 ribu ton, dan sekitar 845 ribu ton dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan gula di kawasan Indonesia Timur.

Sampai saat ini, Jawa Timur masih memiliki kelebihan gula sekitar 30 ribu ton dari sisa produksi tahun 2013 lalu dan pada tahun 2014, produksi gula sementara ini sekitar 700 ribu ton, yang belum laku keluar Jawa Timur.

Menurunnya permintaan gula dari kawasan Indonesia Timur yang menurun, diduga adanya peredaran gula rafinasi di Indonesia Timur yang masuk ke ranah gula konsumsi.

Pada sambutan Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, menyampaikan akan memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat pergulaan di Jawa Timur yang selama ini senantiasa telah berupaya mengembangkan perkebunan tebu dan industri gula yang ada di Jawa Timur.

Upaya yang sedang dilakukan pada tahun ini, bersama P3GI adalah mengadakan audit efisiensi PG. Dari 31 PG yang diaudit ternyata memberikan hasil yang beragam dengan overall recovery (OR) 70-80%. Sebagai gambaran saja, bahwa sebuah pabrik gula yang baru saja didirikan dengan peralatan yang serba baru, memiliki overall recovery (OR) sebesar 95%. Audit efisiensi PG ini akan dilakukan 2 tahun sekali untuk memantau efisiensi dari PG.

Secara nasional, kondisi pergulaan nasional saat ini, dari produksi gula nasional sebesar 2,5 – 2,6 juta ton, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi. Dengan angka kebutuhan gula konsumsi 10 – 12 kg / kapita / tahun, sejumlah 240 juta orang penduduk Indonesia membutuhkan 2,4 – 2,6 juta ton, dipenuhi oleh produksi gula nasional. Sedangkan kita tahu bahwa industri makanan dan minuman juga membutuhkan gula yang mencapai 3 juta ton per tahun, sehingga pemerintah masih memerlukan impor raw sugar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Atas dasar tersebut, menjadi jelas bahwa industri gula yang mengimpor raw sugar untuk diproduksi menjadi gula rafinasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman, dan bukan untuk dijadikan gula konsumsi rumah tangga.

Dalam pertemuan itu, dihadiri juga oleh para Ketua KPTR; perwakilan APTRI; tokoh dari berbagai Perguruan Tinggi seperti Unibraw, UNEJ, UPN, Unmuh Gresik; pelaku industri gula dari PG seperti PTPN X, PTPN XI, PT Kebon Agung, PT RNI, dan juga tim pembina provinsi serta kabupaten.

Sebagaimana diamanatkan oleh Perda Rendemen yang menyatakan bahwa PG diwajibkan untuk meningkatkan efisiensi dari tahun ke tahun. Setelah audit dilakukan pada off farm yaitu di PG, maka untuk tahun 2015 mendatang audit juga akan dilakukan pada on farm yaitu kondisi tebu dari petani. Dengan demikian petani yang kurang bagus kondisi tebunya juga akan berbenah diri dengan bimbingan dari PG. Berbagai upaya tersebut dilakukan demi tercapainya rendemen sesuai amanat perda. Pada tahun 2014 ini diprediksi rendemen rata-rata 8% dan diharapkan Jawa Timur dapat memberikan kontribusi 50% terhadap produksi nasional atau setara dengan 1,3 juta ton./*adv