Dewan Tolak Subsidi Monorel

monoSurabaya – Rencana pembangunan moda Angkutan Massal Cepat (AMC) di Surabaya berupa monorel bahkan juga trem nampaknya masih jauh dari angan-angan.

Proyek yang rencananya akan dimulai pembangunannya pada tahun 2014 ini oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, diganjal oleh Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

Bahkan Komisi C menyoroti tajam adanya subsidi tiket pada monorel dan trem nantinya. Adapun rencana besaran subsidi para penumpang sekitar Rp (rupiah) 20 ribu sampai dengan Rp 30 ribu.

“Saya tidak setuju tiap penumpang mendapatkan subsidi Rp 20 ribu, ini memberatkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),” tolak Sachiroel Alim Anwar Ketua Komisi C DPRD.

“Kita ingin menyempurnakan konsep ini, tapi hati-hati dalam penggunaan uang rakyat,” ungkapnya.

Alim menambahkan, sudah hampir setahun Komisi C memantau perkembangan rencana pembangunan moda AMC. Tidak itu juga, bahkan ingin mendapatkan informasi yang utuh terkait progress dan report kemajuannya, karena menyangkut kemaslahatan warga Surabaya.

“Kalau hanya untuk angkutan orang saja, berarti sama saja memberikan subsidi untuk kalangan menengah ke atas,” tandas Agus Sudarsono anggota komisi C.

A.A. Gede Dwijaya Wardhana Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Kabid Sapras Bappeko) Surabaya menuturkan, bahwa pihaknya berupaya untuk meminimalisir subsidi.

Caranya salah satunya, mendayagunakan halte-halte yang ada nantinya. Dengan dipakai untuk kios-kios jualan atau untuk advertising.

“Perkiraan kita harga tiket antara Rp 6 ribu hingga Rp 10 ribu, jadi memang harus ada subsidi sebesar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu,” katanya.

Sesuai yang dijadwalkan tahun 2014 hingga 2015 pelaksanaan kontruksi. Perkembangan terakhir sudah lakukan pengadaan badan usaha sebagai pelaksana.

Ada 2 moda utama, yakni untuk kawasan dari Utara dan Selatan Surabaya sepanjang 17 Kilometer (KM) dengan trem. Nantinya akan ada 29 titik pemberhentian dengan jarak tiap halte antara 1,5 km hingga 2 km. Trem berisi 2 gembong dengan daya angkut 200 orang.

Sedangkan yang menghubungkan wilayah Timur ke Barat Surabaya sepanjang 24 km dengan menggunakan  Monorel dengan 4 rangkaian, nantinya akan dibuat sebanyak  25 halte.

“Diperlukan biaya sebesar Rp 8,8 Trilyun untuk proyek ini,” papar Dwija.

“Jadi kami yakin, banyak investor yang minat,” ungkap Dedik Irianto Kepala Bagian (Kabag) Bina Program Surabaya.