Dewan Pertanyakan Pembangunan Cagar Budaya

balai pemudaSurabaya – Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Surabaya sebagai stakeholders untuk proyek renovasi gedung Balai Pemuda pasca kebakaran mulai dipertanyakan oleh anggota Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

“Sudah hampir 5 tahun, masih saja seperti itu saja, ini ada apa,” ucap Agus Sudarsono anggota Komisi C. “Material bongkaran juga harus ditanya ke bagian perlengkapan, kemana itu, karena tidak sedikit material yang harganya mahal lantaran nilai historinya cukup tinggi,” tambahnya.

Agus mengakui mendapat laporan bahwa beberapa material yang terpasang mulai dari jenis kayu, engsel dan beberapa jenis material lain tidak seperti yang diharapkan alias tidak sesuai spesifikasi yang ditetapkan, karena kualitasnya sangat jauh dari aslinya.

Masih kata Agus,disamping faktor buruknya kinerja kontraktor, kelemahan pelaksanaan proyek renovasi gedung Balai Pemuda pasca kebakaran bisa juga diakibatkan oleh kualitas personal seorang konsultan pengawas yang rendah.

“Peran kontraktor memang sangat penting, namun tetap bergantung kepada peran konsultan pengawasnya, karena dalam tahapan pengerjaannya harus melalui persetujuan konsultan pengawas dan wakil direksi dilapangan yakni pengawas dari dinas, dan jika ternyata keduanya telah berkonsiliasi buruk, maka akibatnya akan fatal,” paparnya.