Dewan Minta Renovasi Balai Pemuda Sesuai Aslinya

 Ir. Armuji, MH

Ir. Armuji, MH

Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus serius merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya. Karena selain memiliki makna kesejarahan yang tinggi, bangunan cagar budaya merupakan identitas kota yang sangat mendukung sektor pariwisata.

“Identitas kota bisa tercipta jika ada kesungguhan dan keberpihakan, untuk itu, dewan mendesak Pemkot Surabaya untuk memperhatikan kelangsungan bangunan cagar budaya, bukan hanya mempertahankan tapi juga merawatnya,” kata Ir. Armuji MH Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

Penegasan Armuji ini dilandasi atas keperihatinan masih banyaknya bangunan cagar budaya tang terbengkalai. Salah satunya Balai Pemuda yang dulu bernama Simpangsche Societeit. Gedung yang berdiri sejak 1907 tersebut, pernah terbakar pada tanggal 20/09/2011 lalu, sampai sekarang masih terus mengalami perbaikan.

Armuji menambahkan, dimana Balai Pemuda memiliki desain terbaik di Asia dari desainnya. Sang kreator, Westmaes, adalah seorang arsitek profesional asal Belanda. Bangunan Balai punya karakteristik kuat.

Langgam arsitekturnya yang mewarnai corak bangunan pergantian abad 19-20 itu, sangat beragam. Di antaranya, neogothic, neorenaissance, neoclasic, niewe Kunst (art nouveau versi Belanda), Amsterdam School, dan de Stijl, yang berpengaruh pada aliran artitektur kolonial di Surabaya.

“Itu sebabnya, jika sekarang melakukan perbaikan tidak sembarangan, saya menyaksikan sendiri masih banyak bangunan yang rusak dalam dalam gedung Balai Pemuda,” ujarnya.

Laporan terakhit yang diterima dewan, dinding depan Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di kompleks Balai Pemuda telah ditutup asbes dengan rangka galvalum. Seharusnya dibuat knock down. Tidak dibuat permanen karena bisa dikategorikan merusak cagar budaya.

“Saya sudah meminta Wiwiek Widayati Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mencopot asbes tersebut, harus diturunkan sehingga setiap kali diperlukan untuk pameran misalnya, bisa dipasang, dan dicopot setelah pameran selesai,” tutur Armuji.

Masih kata Armuji, yang juga perlu disosialisasikan adalah, Balai Budaya yang bersebelahan dengan Galeri DKS. Gedung yang masih baru itu sampai sekarang tidak jelas fungsinya.

Baktiono anggota Komisi D bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DPRD Surabaya menegaskan, pembangunan gedung Balai Pemuda sebagai bangunan cagar budaya tidak boleh berubah sedikitpun. Termasuk bahan baku dari pembangunan gedung Balai Pemuda harus sesuai dengan bangunan lama atau aslinya.

“Apabila pelaksana proyek tidak memperhatikan hal itu, maka bisa berhadapan dengan tuntutan pidana hukum,” tambahnya seraya menunjuk Undang-Undang (UU) nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Peraturan Daerah (Perda) nomor 05 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya .

Untuk mengubah dan harus mendapat pertimbangan tim cagar budaya. Dalam pertimbangan, bentuk bangunan dan warnanya harus sama. Kalau tidak ada bahan yang sama harus mirip. Itu sudah aturannya.

Baktiono mengakui, soal bahan baku bangunan cagar budaya sering jadi kendala karena sangat sulit didapat pada masa sekarang ini. Seperti besi kerangka bangunan dengan kandungan tembaga, kayu jati untuk atap dan plafon, serta lainya. Dimana bahan-bahan baku bangunan tersebut sudah tidak lagi diproduksi oleh pabrikan dan sulitnya menemukan kayu jati keras usia tua.

Oleh karena itu, terang Baktiono, pelaksana proyek pembangunan gedung Balai Pemuda harus berpengalaman. Artinya, pemenang proyek tidak sekadar dipilih dengan tawaran harga terendah, tapi juga memperhatikan kualitas pekerjaannya.

Selain itu Armuji sangat menyayangkan peran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sekarang ini, hanya sibuk dengan urusan penertiban ijin Restoran, Hotel dan tempat Hiburan Umum ( RHU ) saja. Padahal Dinas ini punya peran penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal yang ada di kota ini.

“Tolok ukur gampang, lihat saja sekarang ini Surabaya hampir 3 sampai 4 tahun terakhir, sepi dengan acara pagelaran budaya, Balai Budaya seringkali kosong tanpa kegiatan, padahal sudah dilakukan renovasi,“ ungkap Armuji.

“Khusus untuk pengembangan obyek dan daya tarik wisata Balai Pemuda saja, sudah kita anggarkan Rp (rupiah) 900 juta, tapi sampai sekarang baru terserap sekitar 52 persennya saja,” paparnya.

“Belum lagi untuk anggaran pengembangan Kesenian dan Kebudayaan daerah, sudah dianggarkan Rp. 2,3 milyar, tapi sampai sekarang baru terserap 63 persennya,” jelas Armuji.