APERKI Minta Pajak Disamakan Dengan Bioskop

rhuSurabaya РPengusaha Rumah Hiburan Umum (RHU) tepatnya karaoke keluarga di Surabaya meminta besaran pajak hiburan yang dikenakan pada mereka diturunkan menjadi 10 persen.

Bahkan mereka ingin disamakan dengan pajak yang diberlakukan kepada bioskop-bioskop.

Dalam dengar pendapat di Komisi A bidang Pemerintahan (Pem) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

Beberapa pengurus dari Asosiasi Pengusaha Rumah Bernyanyi Keluarga Seluruh Indonesia (APERKI) menyampaikan penurunan tersebut.

Santoso Setiaji Ketua Umum (Ketum) APERKI mengatakan, pihaknya menyampaikan permohonan penurunan pajak karaoke keluarga.

Sebab besaran pajak sebesar 35 persen selama ini mereka bayarkan dirasa terlalu besar.

“Kami ingin disamakan dengan pajak yang diberlakukan kepada bioskop sebesar 10 persen,” kata Santoso.

Masih Santoso, rumah karaoke keluarga anggota APERKI menyediakan hiburan yang positip bagi masyarakat.

Bahkan setiap tahun anggota APERKI rutin membayar royalti kepada para musisi Indonesia yang lagu lagunya ditampilkan di server hard ware rumah rumah karaoke keluarga.

Untuk besaran royalti yang dibayarkan oleh anggota Aperki ini mencapai miliaran rupiah pertahunnya.

Dimana uang ini diambil dengan hitungan Rp (rupiah) 12 ribu perkamar setiap harinya kepada setiap penyelenggaraan operasional karaoke.

“Kalau soal royalti memang itu sudah sesuai aturan Undang-Undang (UU) yang ada,” terangnya.

“Dan kami sangat ingin menghargai karya para pencipta lagu dari dalam negeri,” ungkapnya.

“Sebab kami adalah etalase produk kreatifitas mereka,” urai Santoso.

Hal senada juga disampaikan Marulam J.Hutauruk selaku Ketua Harian APERKI.

Akibat beban biaya operasional yang ditanggung anggota APERKI cukup besar.

Selama tahun 2016 hingga tahun 2017 tidak sedikit rumah karaoke keluarga yang gulung tikar.

“Kalau awalnya di Pulau Jawa ada sebanyak 181 rumah karaoke maka sekarang tinggal 177 tempat,” paparnya.

“Jadi sekarang total di seluruh Indonesia ada sebanyak 286 rumah karaoke keluarga yang menjadi anggota APERKI,” ujar Marulam.

Di Surabaya sendiri jumlah rumah karaoke keluarga anggota Aperki saat ini ada 8 outlet.

Mereka Happy Puppy, Masterpiece, Suka Suka dan Inul Vista. Masing masing outlet mempekerjakan 40 pegawai.

Sedangkan Imam Haryanto dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional mengatakan keberadaan karaoke sangat membantu dalam proses kreativitas para musisi sekaligus mempopulerkan karya mereka termasuk lagu-lagu daerah.

“Selain 85 persen koleksi lagu dalam negeri yang sering dinyanyikan pengunjung, sesuai data rekam pengunjung ada 25 persen lagu-lagu daerah, kami ingin membudayakan lagu daerah,” ucapnya.

Adi Sutarwiyono Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pajak Daerah mengatakan, pengawasan maupun perizinan yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus lebih ketat.

Sehingga tidak ada kejadian sebuah tempat karaoke yang memiliki dua izin sekaligus sebagai karaoke keluarga dan dewasa.

“Pasal yang dipakai untuk pengenaan pajak terhadap karaoke keluarga ini dulunya mungkin pasal geregetan,” kata Adi.

“Kenapa kok sama pajak karaoke keluarga dengan dewasa ataupun eksekutif sebesar 35 persen,¬†padahal jelas berbeda,” tuturnya.

“Karaoke keluarga harus bebas dari miras dan purel,” kata Lutfhia anggota Pansus.

“Sebagai tempat hiburan keluarga 2 hal itu harus diterapkan,” ingatnya.

Herlina Harsono Nyoto Ketua Pansus mengatakan, akan menampung aspirasi para penyelenggara tempat karaoke keluarga.

Kalau karaoke dewasa itu menyediakan pemandu lagu (purel) sedangkan karaoke keluarga tidak, Itu yang membedakan,” papar Fauzi M Yos dari Dinas Pariwisata (Disparta) Surabaya.