Bangun Rusun Dimentahkan Baktiono

Rusunawa

Rusunawa

Surabaya – Tri Rismaharini (Risma) Walikota Surabaya menyatakan, bahwa masih banyaknya kasus dilingkungan keluarga menengah ke bawah, utamanya kasus kekerasan dan trafficking, ternyata juga dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti pemukiman padat dan kumuh.

Risma juga menyampaikan kebutuhan Rumah Susun (Rusun) di Surabaya terus meningkat karena masih banyak warga kota Surabaya yang hidup di pemukiman padat dan kumuh yang akhirnya berdampak kepada pertumbuhan dan perkembangan mental keluarganya terutama anak-anak.

“Setahu saya, semua rusun yang ada di Kota Surabaya saat ini kondisinya sudah terbangun sebelumnya, dan tidak satupun rusun yang terbangun di era pemerintahan Risma,” kata Baktiono angota Komisi D bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DPRD Surabaya.

“Program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK) milik Pemerintah Kota (Pemkot) itu tidak perlu lagi diterapkan, karena tidak akan bisa menanggulangi keberadaan wilayah kumuh,” tambahnya.

“Program itu semacam bedah rumah yang nilainya sekitar Rp (rupiah) 5 juta untuk 400 rumah setiap tahunnya, tetapi lebih baik lahan kawasn kumuh itu di beli dan dibangun rusun untuk mereka sendiri sehingga tidak menghilangkan keakraban dan persaudaraan warga setempat,” tandasnya.

Baktiono menjelaskan, rusun yang terbangun dengan lahan yang luas dan bangunan yang tinggi. Biasanya dilokasi yang jauh, sehingga memindahkan komunitas warga setempat dan berimbas kepada jarak sekolah maupun pekerjaan ditambah dengan pembengkakan pada biaya transportasi.