Kembalikan Kejayaan Pertanian Tembakau

Charles

Charles Meikyansah

Surabaya РPotensi Industri tembakau masih sangat besar. Bukan saja menyerap banyak tenaga kerja, namun juga menyumbangkan pendapatan besar negara.

Charles Meikyansah politikus Partai NasDem menungkapkan, agar pemerintah memberi kesempatan para petani untuk bisa menanam dengan lebih baik lagi dari sisi kualitas maupun kuantitas.

“Industri ini melibatkan sangat banyak orang,” kata Charles. “Saya mendengar keluhan para pengusaha tembakau bahwa impor tembakau sangat besar dari sisi jumlah,” tambahnya.

“Inilah yang saya kira perlu dibicarakan seluruh pemangku kepentingan, bagaimana impor tembakau bukan disetop sama sekali, tetapi secara bertahap diturunkan,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Pertanian dan juga Kementerian Riset dan Teknologi juga terlibat. Sebab selama ini petani tembakau sangat tergantung cuaca.

Jika cuaca hujan terus menerus tidak tertutup kemungkinan tanaman tembakau bisa menurun kualitasnya atau rusak.

Bila dilihat dari kontur tanah, di Madura dan wilayah Jawa Timur lainnya, sangat cocok untuk menanam tembakau.

“Kalau riset pertanian serius, bisa saja kita punya tembakau yang bagus dan tahan cuaca, daya saing dengan tembakau impor jadi tinggi,” tuturnya.

Masih kata Charles, tidak menutup mata dari desakan produksi rokok dalam negeri harus diturunkan karena masalah kesehatan.

“Sebenarnya lucu juga, industri tembakau diminta turun terus, tetapi penghasilan dari cukai tembakau adalah salah satu yang terbesar,” terangnya. “Jadi kalau turun, harus ada yang lebih baik lagi dan petani juga sejahtera,” jelasnya.

“Indonesia ini punya pengalaman, tinggal sekarang pemerintah serius memproteksi itu, sehingga simbiosis mutualisme,” urainya.

Hananto Wibowo juru bicara (jubir) Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia mengatakan, pemerintah perlu mendorong kemitraan antara petani dengan pemasok maupun dengan pabrikan produk tembakau.

“Memotong rantai penjualan dengan menjamin penyerapan produksi dan kepastian harga sesuai kualitas,” kata Hananto.

Masih kata Hartanya, selain memotong rantai penjualan, pemerintah juga perlu mendorong peningkatan produktifitas dan kualitas tembakau karena adanya bimbingan dan fasilitas dari pihak mitra.

“Kemitraan juga akan memberi pengaruh positif terhadap nilai tambaha atau insentif yang diterima oleh petani dan atau buruh tembakau,” paparnya.

Perlu diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara produsen tembakau terbesar. Beberapa negara penghasil tembakau terbesar ialah China, Brasil, India dan Amerika Serikat.