ANTAPURA SITI INGGIL MOJOPAHIT

Mas Dipa Maya. SH ( Selaku tokoh Dharma Kasepuhan Wilwatikta Mojopahit )

Mas Dipa Maya. SH ( Selaku tokoh Dharma Kasepuhan Wilwatikta Mojopahit )

Dalam perjalanan kali ini GusWi berada di Antapura atau Siti Inggil yang diartikan Tanah Tinggi, atau Tanah yang diagungkan merupakan sebuah tempat persinggahan dan pertapaan dari Raja kerajaan Majapahit bernama Raden Wijaya. Siti Inggil Iebih tepatnya berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Pada awalnya Siti Inggil adalah sebuah punden yang berada di Dusun Kedungwulan dan mempunyai nama Lemah Geneng, yang mempunyai arti Siti Inggil.

Sebelum bercerita Iebih banyak tentang Siti Inggil, ada baiknya kita mengenal siapa sebenarnya Raden Wijaya, berbicara tentang Mojokerto tentu tidak terlepas dari sejarah masa lampau yang menyebutkan bahwa di Mojokerto terdapat satu kerajaan besar bernama Majopahit yang mempunyai kekuasaan begitu luas hampir seluruh wilayah Se-Asia Tenggara.

Sementara itu, masyarakat mempercayai bahwa siti linggil merupakan tempat peristirahatan terakhir leluhur mereka.

Dalam membaca kearifan lokal leluhur jawa terutama leluhur Majapahit yang hendak memberikan sebuah peringatan, kabar gembira dan petunjuk tentang ruang kesejatian hidup manusia seutuhnya melalui Prasasti Siti lnggil.

Siti lnggil merupakan bahasa jawa, dimana Siti berarti Tanah dan lnggil berarti Tinggi dlm bahasa indonesia, dan hal ini memiliki korelasi yg benar benar seksama tentang awal penciptaan manusia didalam kitab suci umat muslim, bahwa Adam terbuat dari tanah dan Adam adalah derajat makhluk yg Iebih tinggi daripada makhluk Iain karena diberikannya daya Tuhan yg mampu menilai dualitas baik buruk dan menimbangnya mana yg Iebih bermanfaat yg dalam bhs arab adalah Ruh Al Aqal dan Ruh Al Furqon.

Maka bisa diidentikkan bahwa Siti lnggil merupakan fllsafat adab budaya Majapahit yg menunjuk bahwa manusia diciptakan derajatnya Iebih tinggi.

menurut Mas Dipa Maya selaku Dharma Kasepuhan Siti Hinggil, mengartikan bahwa,
Siti adalah Tanah. Manusia berasal dari Tanah. Inggil adalah Tinggi, dan yang paling tinggi adalah Ruh AI aqal dan Ruh AI Furqon.

Tinggi itu merupakan sebuah derajat yang bukan urusanya manusia lagi, namun kembali diberikan kepada manusia lagi alias Derajat insan kamil, sempurna diatas semua makhluk, karena disinari kemampuan Tuhan untuk melayani dan menciptakan sebuah kedamaian pada sesama makluk Tuhan.

Petilasan/Makam R. Wijaya

Petilasan/Makam R. Wijaya

Sebelum masuk keTempat Ritual ada dua makam yang bersemayam yaitu Kyai Sapu Jagad dan Kyai Sapu Angin, namun tidak diperoleh keterangan dan informsi yang jelas mengenai kedua makam tersebut.

Bila kita jeli dan mengamati makam Raden Wijaya akan kita temukan keanehan, karena di makam ini sangat khas dan kental dengan nuansa Islam, sedangkan kita semua tahu bahwa Raden Wijaya adalah seorang Raja yang memegang teguh agama Hindhu. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa komplek makam Siti Inggil sebenarnya hanya sebagai symbol bukan tempat bersemayam atau dimakamkannya Raja R. Wijaya. Siti Inggil hanya berfungsi sebagai petilasan atau pertapaan Raden Wijaya, karena di tempat itu R.Wijaya mempunyai kemampuan spiritual yang tinggi dan dipercaya sampai Mukso, dalam terminologi Jawa Mukso dapat diartikan hilang tanpa bekas, meninggal tanpa meninggalkan jenazah atau tubuh, semuanya masih tetap menjadi misteri sampai saat ini.

Indonesia memang kaya dengan keindahan alam, seni, budaya bahkan peninggalan purbakala, semuanya mengundang minat banyak wisatawan baik domistik dan mancanegara untuk menyaksikan serta menikmati keindahan dan keunikannya. Seharusnya kita berbangga dengan nusantara tercinta ini, hanya satu pesan yang harus tetap kita ingat ‚ÄĚjaga dan lestarikan apa yang telah dititipkan Tuhan kepada kita.