Genangan Air Lumpuhkan Aktivitas Masyarakat

Vinsensius

Vinsensius

Surabaya – Istilah banjir sudah hal yang umum di berbagai daerah. Namun untuk Kota Surabaya, lebih akrap disebut genangan walau setinggi 1 meter.

Seperti yang terjadi di wilayah Selatan Kota Surabaya, kumpulan air yang disebut genangan telah melumpuhkan masyarakat yang beraktifitas disana.

Vinsensius anggota Komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya angkat bicara.

“Habiskan anggaran dalam setiap tahun untuk pengendalian banjir sebesar Rp (rupiah) 500 miliar,” kata Vinsensius.

“Sistem drainase Kota Surabaya perlu dievaluasi total, namun kenyataannya tidak ada perubahan yang signifikan, yang ada semakin parah,” tambahnya.

BanjirMasih kata Vinsensius, cara¬†kerja dinas terkait juga perlu dievaluasi kembali. “Jgn lagi katakan, hanya genangan air,” ungkapnya.

“Dengan tidak mau mengakui banjir dan selalu sampaikan bahwa itu hanya genangan air, maka sampai kapanpun pengendalian banjir di Kota Surabaya tidak dapat terwujud,” terangnya.

“Karena yang ada dalam pemikiran Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya adalah bagaimana mengatasi genangan air dan bukan mengatasi banjir,¬†sampai kapanpun banjir tdk akan teratasi,” urainya.

Vinsensius menambahkan, pembangunan sistem drainase dalam hal ini lebih kepada pemerataan. “Sehingga¬†dengan anggaran yang ada dibagi keseluruh kawasan, maka banyak ditemukan pembangunan drainase yang tidak tuntas, tidak terintegrasi antara satu saluran ke saluran lain dari sisi elevasi dan volume penampungannya,” jelasnya.

“Antara saluran primer, sekunder dan tertier tidak menjadi satu kesatuan yang terintegrasi,” tuturnya.

“Idealnya Pemkot Surabaya melakukan pemgendalian banjir berdasarkan peta titik lokasi banjir yang ada di Surabaya, pembangunan drainase berdasarkan skala prioritas kawasan dan lakukan sampai tuntas, tidak seperti saat ini, malah sebaliknya,” pungkasnya.