Minta Jalur Penyimpangan Dana Dibuka

sumbanganSurabaya – Setelah Operasi Tangkap Tangan (OTT) pungutan liar (pungli) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 15 Surabaya lalu.

Membuat pengelola sekolah trauma bahkan beberapa kegiatan ekstrakuler yang tidak memiliki anggaran biaya terpaksa ditiadakan.

Bahkan, kegiatan yang benar-benar bisa menunjang prestasi gagal diselenggarakan lantaran harus memerlukan bantuan biaya dari orang tua siswa.

Indra Wahyudi Komite SMAN 5 Surabaya mengaku sejak sumbangan sukarela dari orang tua siswa dipermasalahkan, pengelola sekolah benar-benar hati-hati.

“Negara tidak bisa merawat anak seperti orang tua sendiri, masak semuanya serba gratis, gratis boleh tapi untuk warga miskin,” katanya.

“Dulu ada kotak di parkiran sekolah, kita tidak meminta, tapi siswa memberi karena kasihan kepada penjaga parkir, sekarang kotaknya sudah tidak ada,” terangnya.

“Selama ini memang banyak pertanyaan tentang sumbangan sukarela itu, sampai puncaknya yang ada di SMAN 15, Kejadian itu membuat kita ragu-ragu mengadakan kegiatan,” kata M Ikhsan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya.

Iksan menambahkan, selama ini Dindik selalu mendukung setiap jenis kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Hanya saja, dia menginginkan kegiatan itu tidak menyebabkan masalah.

Saat ini kalau ada kegiatan yang dibiayai orang tua berpotensi ramai sepert kasus di SMA 15. “Jadi sampai sekarang kita menunggu arahan dari dewan,” tandasnya.

Agustin Poliana Ketua Komisi D bidang Kesejehteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya menerangkan, semua bentuk pungutan untuk kegiatan yang tidak dianggarkan dalam Biaya Operasional Daerah (Bopda) dan Biaya Operasional Sekolah (BOS) memang dibutuhkan.

“Sepanjang orang tua mau membantu dan tidak memberatkan saya kira tidak apa-apa,” ungkapnya.

Fatchul Muid Sekretaris Komisi D meminta siswa tidak dijadikan objek mencari keuntungan. Pasalnya, pernah terjadi sekolah membuat proposal kegiatan. Tapi nyatanya, hasil proposal itu masuk ke kantong pribadi.

“Anggaran pendidikan di Surabaya ini besar, Rp (rupiah) 1,4 triliun, jadi jangan asal buat proposal kegiatan,” pintanya.